GUNUNGKIDUL –Melambungnya harga bahan baku logam, terutama besi dan perunggu, membuat biaya produksi kerajinan gamelan tradisional terus membengkak.
Di sisi lain, perajin harus tetap menjaga kualitas sekaligus mempertahankan harga jual agar produknya tetap diminati pasar.
Perajin gamelan Nusantara di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang Wawan Kurniawan mengatakan, kenaikan harga bahan baku mulai berdampak pada biaya produksi berbagai instrumen gamelan.
Lonjakan harga paling terasa terjadi pada besi yang digunakan sebagai bahan pembuatan sejumlah instrumen gamelan.
"Besi itu dari Rp 300 ribu sekarang harganya Rp 700 ribu per lembar," ujar alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta saat ditemui Minggu (19/7/2026).
Baca Juga: Angkat Potensi 21 Kecamatan lewat Kirab Gunungan, Ketep Summit Fest 2026 Dongkrak Kunjungan Wisata
Satu lembar besi, hanya mampu digunakan untuk membuat sekitar 14 kenong. Sementara itu, harga jual kenong berbahan besi berkisar Rp 250 ribu hingga Rp300 ribu per buah.
Meski demikian, kenaikan harga bahan baku tidak serta-merta dapat dibebankan kepada konsumen. Menurutnya, perajin harus mempertimbangkan daya beli pasar agar pesanan tetap berjalan.
Selain biaya pembelian logam, proses pembuatan gamelan juga membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit.
Mulai dari kebutuhan gas asetilin, oksigen untuk proses pengerjaan logam, hingga upah tenaga kerja menjadi komponen biaya yang ikut mengalami peningkatan.
Baca Juga: Penyebab Kematian Penyu di pantai Gua Cemara Belum Jelas, Butuh Uji Nekropsi
"Sedangkan kita juga harus mikir pegawai dan operasional lainnya seperti asetilin dan oksigen," katanya.
Tak hanya besi, bahan baku perunggu yang digunakan untuk membuat gamelan dengan kualitas suara lebih baik juga mengalami kenaikan harga yakni hampir Rp 2 juta-an. Kondisi tersebut membuatnya harus cermat menentukan harga jual agar usaha tetap berjalan di tengah meningkatnya biaya produksi.
"Dengan biaya operasional yang besar harus pintar mengatur harga, karena kita produsen," jelasnya.
Untuk menjaga kualitas produk, seluruh kebutuhan logam masih didatangkan dari Kota Jogja yang selama ini menjadi pemasok utama bahan baku. "Kami ambil bahan baku dari Jogja kota," bebernya.
Meski menghadapi tekanan biaya produksi, permintaan gamelan justru masih cukup baik. Produk buatan perajin gamelan Nusantara telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatra, dan Jakarta. Bahkan, hasil kerajinannya juga telah menembus pasar internasional.
"Untuk pemasaran sudah sampai Kalimantan, Sumatra, Jakarta, kemudian luar negeri Uni Emirat Arab, Turki, Amerika, Malaysia, dan Singapura," terangnya.
Pun selain melayani pembelian secara langsung, pemasaran juga dilakukan melalui jaringan reseller, website, marketplace, hingga media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Baca Juga: 106 Murid SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta Raih Medali IKMC 2026
Di tengah keberhasilan memasarkan produk hingga mancanegara, Wawan menilai perhatian pemerintah terhadap industri kerajinan gamelan masih perlu ditingkatkan.
Menurutnya, Jogjakarta yang dikenal sebagai kota budaya semestinya tidak hanya memberikan perhatian kepada pelaku seni pertunjukan, tetapi juga kepada perajin yang memproduksi alat musik tradisional.
"Di Jogja kurang support, pemerintah malah banyak mendukung seniman," tandasnya.
Terlebih, jumlah perajin yang mampu membuat gamelan berbahan perunggu kini semakin terbatas. Keahlian tersebut membutuhkan pengalaman panjang dan tidak banyak dikuasai oleh perajin.
Baca Juga: Dua Pemain Asing Melvyn Lorenzen dan Matheus Fornazari Sudah Resmi ke PSS Sleman
"Di Gunungkidul ada beberapa tapi tidak banyak. Yang bisa membuat gamelan perunggu di Jogja salah satunya saya," ungkapnya.
Meski dihadapkan pada kenaikan biaya produksi, Wawan memilih tetap mempertahankan usahanya. Selain membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, ia menilai industri gamelan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Jawa.
Menurutnya, gamelan bukan sekadar produk kerajinan, tetapi juga identitas budaya yang perlu terus dijaga.
Baca Juga: Modus Tes TOEFL Saat MPLS, Disdikpora DIY Selidiki Dugaan Pencatutan Nama Dinas
Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap para perajin, baik melalui promosi, pameran, pendampingan usaha, maupun program pengembangan industri kreatif berbasis budaya.
Ini agar keberlangsungan produksi gamelan tetap terjaga di tengah meningkatnya biaya bahan baku. (cr1/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita