GUNUNGKIDUL - Ribuan warga memadati Balai Kalurahan Wiladeg, Karangmojo Jumat (17/7), untuk mengikuti puncak perayaan bersih kalurahan atau rasulan. Tradisi turun-temurun tersebut diawali kirab budaya yang menghadirkan tujuh bregada reog dan arak-arakan 20 gunungan hasil panen sebagai simbol rasa syukur.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih yang turut hadir mengatakan, rasulan merupakan tradisi sakral yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat agraris di Gunungkidul. "Rasulan meniko wujud ritual sakral minongko atur syukur marang Gusti awit hasil panen ingkang melimpah," ujarnya.
Baca Juga: Stunting di Bantul Turun 203 Kasus, Pendampingan Balita Terus Digencarkan
Menurut Endah, tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk ungkapan syukur. Tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian budaya daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. "Ugi dados sarana nguri-uri kabudayan," sebutnya.
Sementara itu, ketua panitia rasulan Wiladeg Budi Lumaksa mengatakan, tradisi ini diawali dengan kirab budaya yang diikuti tujuh bregada reog dan 20 gunungan hasil panen. Acara kemudian dilanjutkan dengan pentas reog. “Setelah ini akan dilaksanakan kenduri dan ikrar, kemudian malam harinya ditutup dengan pagelaran wayang kulit," katanya.
Baca Juga: Tanamkan Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan dan Ruang Publik Sejak Dini, Pemkot Jogja Gelar Gerakan Reresik Sekolah
Rasulan, lanjutnya, tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan. Tetapi juga menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus momentum mempererat persaudaraan dan semangat gotong royong antarwarga.
Tingginya antusiasme warga, dia berharap rasulan tidak hanya mampu menjaga eksistensi tradisi leluhur. Tetapi juga menjadi salah satu potensi budaya yang dapat memperkuat identitas sekaligus menarik minat wisatawan ke Gunungkidul. (cr1/eno)