Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Festival Cokelat 4.0 dan Geopark Night Specta 8.0, Minat Masyarakat Kembangkan Komoditas Kakao Gunungkidul Terus Meningkat

Dzika Fajar • Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:38 WIB
BAROMETER NASIONAL: Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho menjelaskan, DIY memiliki potensi besar di sektor perkebunan. Khususnya kakao dan kopi. Foto kanan,  pembukaan Festival Cokelat 4.0 dan GNS 8.0 di Embung Nglanggeran, Gunungkidul, Jumat (10/7/2026). Foto: Dzika Fajar Alfian/Radar Jogja
BAROMETER NASIONAL: Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho menjelaskan, DIY memiliki potensi besar di sektor perkebunan. Khususnya kakao dan kopi. Foto kanan,  pembukaan Festival Cokelat 4.0 dan GNS 8.0 di Embung Nglanggeran, Gunungkidul, Jumat (10/7/2026). Foto: Dzika Fajar Alfian/Radar Jogja

GUNUNGKIDUL - Kegiatan bertajuk Festival Cokelat 4.0 dan Geopark Night Specta (GNS) 8.0 digelar di kawasan Embung Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul. Acara yang diinisiasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY serta didukung Dana Keistimewaan berlangsung selama dua hari Jumat (10/7/2026) dan Sabtu (11/7/2026).

Dalam kesempatan itu, Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan, DIY memiliki potensi besar di sektor perkebunan. Khususnya kakao dan kopi. Bahkan DIY menjadi salah satu barometer nasional penghasil kopi. “Untuk kakao, Gunungkidul menjadi salah satu daerah dengan produksi terbesar," jelas Aris di sela pembukaan Festival Cokelat 4.0 dan GNS 8.0 Jumat (10/7/2026).

Secara khusus Aris mengungkapkan,perkembangan kakao di Gunungkidul menunjukkan tren positif. Sebelumnya, hasil panen lebih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah. Kini masyarakat mulai mengolahnya. Menjadi produk bernilai tambah. Itu berdampak minatmengembangkan komoditas kako terus meningkat.

Baca Juga: Tidak Diambil Pemilik, Barang Bukti Penertiban Street Coffee Menumpuk di Kantor Satpol PP Kota Jogja: Begini Katanya!

"Kalau dulu didistribusikan dalam bentuk mentah, sekarang masyarakat mulai mengolah sendiri. Ini membuat ketertarikan mengembangkan cokelat semakin tinggi," terangnya.

Mantan Paniradya Pati Kaistimewan ini memaparkan, luas lahan kakao di Gunungkidul mencapai 5.250 hektare. Itu menjadikan kabupaten yang punya motto Handayani itu sebagai salah satu sentra produksi cokelat.

Festival Cokelat 4.0 dan GNS 8.0 dibuka oleh Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti. Ikut hadir dalam pembukaan itu Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih. Setelah pembukaan, dilanjutkan lomba Festival Cokelat 4.0. Kemudian pameran dan bazar kelompok tani serta UMKM. Sore harinya diadakan talkshow Festival Cokelat 4.0bertema petani sebagai ujung tombak hilirisasi komoditas kakao.

Baca Juga: Mampu Mengairi Ribuan hektare Lahan Pertanian, Bendungan Jlantah Pekuat Ketahanan Pangan Jateng

Bersamaan dengan pembukaan Festival Cokelat 4.0 dan GNS 8.0 diluncurkan Kopi Darling. Ini akronim dari Kopi Roda Dua Keliling. Sekda DIYNi Made Dwipanti Indrayanti mengatakan,Kopi Darling merupakan bentuk dukungan Pemda DIY terhadap pengembangan usaha kopi lokal melalui fasilitas pemasaran agar lebih dekat dengan masyarakat.

Dukungan itu direalisasikan lewat DPKP DIY melalui bantuan Kopi Darling. Setiap unit Kopi Darling dilengkapi seperangkat peralatan penyeduh kopi layaknya sebuah kedai kopi berjalan. "Di motor itu sudah tersedia peralatannya seperti barista, sehingga bisa langsung menyajikan kopi ke konsumen,” kata Ni Made.

Ada sebanyak 20 unit kendaraan Kopi Darling disiapkan mendukung pemasaran kopi lokal. Sebanyak 10 unit pertama disalurkan pada Juli ini ke Gunungkidul, Sleman, dan Kulonprogo. Sedangkan sisanya, 10 unit dijadwalkan diserahkan pada Agustus mendatang.

Baca Juga: Pieter Huistra Ingin Bawa PSS Sleman Lebih Baik Lagi

Ni Made mengingatkan, kopi yang dipasarkan Kopi Darling harus produk lokal. Bukan kopi instan. Dia juga menerima masukan itu dari Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih. “Kopi yang dijual bukan instan. Harus benar-benar kopi lokal," pintanya.

Mantan kepala Bapperida DIY itu ingin Kopi Darling mampu meningkatkan nilai tambah bagi komoditas perkebunan. Sekaligus membuka peluang kolaborasi antara kakao dan kopi sebagai produk unggulan DIY. Keduanya saat ini menjadi komoditas utama yang diharapkan bisa terus dikolaborasikan. “Dengan begitu, mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ungkap Ni Made. (cr1/kus)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Geopark Night Specta 8.0 #Kakao Gunungkidul #Festival Cokelat 4.0 #sektor perkebunan #Nglanggeran