Kuliner Gunungkidul Belum Jadi Primadona Oleh-Oleh Wisatawan, Disparekrafpora: Masih Berpeluang Dikembangkan
Dzika Fajar• Selasa, 7 Juli 2026 | 06:00 WIB
Pedagang walang goreng di Jalan Jogja-Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.Andi May/Radar Jogja
GUNUNGKIDUL - Kekayaan kuliner khas Gunungkidul belum sepenuhnya menjadi pilihan utama wisatawan sebagai buah tangan. Meski dikenal memiliki beragam makanan lokal seperti walang goreng, thiwul, gatot, hingga aneka olahan hasil laut, sebagian besar wisatawan masih memilih membeli oleh-oleh di luar wilayah Gunungkidul sebelum kembali ke daerah asal.
Kondisi tersebut dirasakan Endah, pedagang seafood dan walang goreng di kawasan Pantai Indrayanti. Menurutnya, pembeli umumnya membeli dagangannya untuk dinikmati langsung atau sebagai camilan selama perjalanan. Bukan untuk dijadikan oleh-oleh. "Kalau di sini mungkin pada beli untuk camilan di jalan. Kalau oleh-oleh mereka biasanya beli di Jogja," ujarnya di sela melayani pembeli Minggu (5/7).
Menurut Endah, wisatawan yang berkunjung ke kawasan pantai lebih banyak mencari makanan siap santap dibandingkan produk yang dapat dibawa pulang sebagai buah tangan. Kondisi tersebut membuat potensi kuliner lokal sebagai oleh-oleh khas belum berkembang secara optimal.
Terpisah,, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparekrafpora) Gunungkidul Supriyatna mengakui, pengembangan sektor kuliner sebagai daya tarik utama pariwisata memang belum menjadi fokus khusus pemerintah daerah.
"Secara khusus kami belum mendorong pada bidang kuliner, karena memang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 7 Tahun 2023 belum secara khusus tercantum," ujarnya saat ditemui di kantor Disparekrafpora Gunungkidul Senin (6/7).
Meski demikian, Supriyatna menilai kuliner memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sektor penunjang pariwisata. Menurutnya, sejumlah makanan khas Gunungkidul memiliki keunikan yang tidak mudah ditemukan di daerah lain sehingga dapat menjadi identitas daerah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
"Seperti walang mungkin di kota lain belum ada. Tapi kalau yang lain seperti wader goreng, thiwul, gatot, dan lain sebagainya juga memiliki potensi," katanya.
Ia menambahkan, pengembangan kuliner lokal tidak hanya berpotensi memperkaya pengalaman wisatawan. Tetapi dapat memperpanjang rantai ekonomi pariwisata. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang menikmati destinasi alam. Namun juga membawa pulang produk kuliner khas sebagai buah tangan. "Sektor kuliner ada peluang untuk dikembangkan sebagai penunjang pariwisata di Gunungkidul," ungkap Supriyatna. (cr1)