Harga Cabai dan Telur Turun, Libur MBG Picu Pasokan Menumpuk
Yusuf Bastiar• Selasa, 30 Juni 2026 | 21:45 WIB
WASPADA KENAIKAN: Pedagang menjual cabai di Pasar Beringharjo, Kota Jogja, Senin (4/5/2026). Menjelang Idul Adha, BPS memprediksi inflasi tidak sekuat Idul Fitri dan permintaan diperkirakan naik terbatas pada bumbu dapur. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNUNGKIDUL - Penurunan harga sejumlah komoditas pangan di pasar tradisional Gunungkidul pada akhir Juni dipengaruhi berkurangnya serapan akibat terhentinya sementara operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. Di saat yang sama, pasokan dari sentra produksi masih melimpah sehingga memicu kelebihan stok di pasar dan menekan harga.
Berdasarkan pantauan harga rata-rata kebutuhan pokok Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) Gunungkidul, sejumlah komoditas mengalami penurunan cukup signifikan. Cabai rawit merah turun Rp 10 ribu per kilogram menjadi Rp 40 ribu dari sebelumnya Rp 50 ribu. Cabai rawit hijau juga turun Rp 10 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram. Sementara cabai merah besar turun Rp 5 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram.
Penurunan juga terjadi pada daging ayam ras yang kini dijual Rp 32 ribu per kilogram atau turun Rp 3 ribu. Telur ayam ras turun Rp 2 ribu menjadi Rp 22 ribu per kilogram. Gula pasir curah ikut terkoreksi Rp 500 menjadi Rp 17 ribu per kilogram. Adapun komoditas lain seperti daging sapi, bawang merah, bawang putih, bawang bombai, minyak goreng, beras, hingga tepung terigu terpantau stabil. Kepala Bidang Perdagangan Disdagnaker Gunungkidul Ris Heryani mengatakan, melimpahnya pasokan menjadi faktor utama turunnya harga. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Gunungkidul, melainkan hampir merata di wilayah Yogyakarta.
"Suplai memang sedang berlebihan. Sebenarnya tidak hanya Gunungkidul, tetapi hampir se-DIY. Stok ini juga lintas daerah, bukan hanya untuk kebutuhan Gunungkidul," ujarnya kepada wartawan, Selasa (30/6).
Menurut dia, permintaan masyarakat relatif tidak mengalami peningkatan, sedangkan ketersediaan barang di pasar terus bertambah. Kondisi tersebut diperparah dengan berhentinya sementara operasional MBG selama libur sekolah sehingga serapan bahan pangan ikut menurun. "Perkiraan kami MBG juga libur, sehingga serapan bahan pokok berkurang. Di sisi lain, sayur-sayuran masih memasuki masa panen sehingga ketersediaan barang menjadi banyak," ujarnya.
Ris menjelaskan, selama MBG berjalan, sebagian kebutuhan bahan pangan diperoleh langsung dari pemasok sehingga tidak seluruhnya dibeli melalui pedagang pasar. Ketika program tersebut berhenti sementara, pasokan yang sebelumnya terserap menjadi kembali masuk ke pasar umum. Dia menilai kondisi tersebut membawa keuntungan bagi masyarakat sebagai konsumen karena harga menjadi lebih murah. Namun, dari sisi petani dan produsen, dampaknya masih perlu dikaji lebih lanjut.
"Bisa jadi saat MBG operasional pedagang pasar memang tidak ikut menikmati pembelian karena pengadaan dilakukan langsung ke pemasok. Nah, ketika MBG tidak menyerap, barang menjadi tersedia lebih banyak di pasar sehingga harga turun," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Disdagnaker Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok agar keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat tetap terjaga. Menurutnya, stok kebutuhan pokok di Gunungkidul hingga saat ini masih dalam kondisi aman meski terjadi fluktuasi harga pada sejumlah komoditas. “Kondisi stok masih aman di Gunungkidul,” pungkasnya. (bas)