GUNUNGKIDUL - Fenomena kekurangan peserta didik baru masih menjadi persoalan serius di Gunungkidul pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026/2027. Sebab dari 463 sekolah dasar (SD) negeri maupun swasta, masih ada 13 sekolah nihil pendaftar. Sementara 414 sekolah belum mampu memenuhi kuota ideal rombongan belajar (rombel) sebanyak 20 siswa per kelas.
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Gunungkidul Asbani menyebut, pelaksanaan SPMB tingkat SD berlangsung pada 3-5 Juni. Hasilnya masih banyak sekolah kesulitan memperoleh peserta didik. “Untuk SD yang tidak mendapatkan murid, ada sembilan yang berstatus negeri dan empat sekolah swasta,” bebernya Senin (15/6).
Baca Juga: Kasus Kebakaran di Kota Jogja Cenderung Turun, Namun Masyarakat Tetap Diminta Waspada
Dia merinci sekolah yang tidak mendapatkan murid. Yakni SDN II Songbanyu, Girisubo; SDN Gelaran III, Bejiharjo, Karangmojo; serta SDN Sambeng II, Sambirejo, Ngawen. Kemudian ada SDN Wonolagi, Ngleri, Playen; SDN Ngabean, Karangasem, Ponjong; SDN Widoro, Bendung, Semin; dan SDN Jaten, Ngestirejo, Tanjungsari. Selain itu SDN Kemiri, Tanjungsari; serta SDN Puleireng, Sidoharjo, Tepus.
Sementara empat SD swasta yang tidak memperoleh peserta didik baru meliputi SD Kanisius Ngawen, dan SD Sanjaya Giring di Kapanewon Paliyan. “SD Muhammadiyah Dawung di Kapanewon Rongkop, serta SD Kanisius Bandung 1 di Kapanewon Playen,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul Nunuk Setyowati mengatakan, total ada 401 SD negeri dan 62 SD swasta di wilayahnya. “(Namun, Red) hanya 36 SD yang mampu memenuhi kuota rombongan belajar sebanyak 20 anak per kelas," ujarnya kepada wartawan.
Berdasarkan data dinas pendidikan, sebanyak 172 SD hanya menerima murid baru kurang dari 10 anak. Sementara 255 sekolah lainnya memperoleh peserta didik lebih dari 10 anak, tetapi belum memenuhi kuota rombel yang telah ditetapkan. Dia pun turut membenarkan adanya 13 sekolah yang sama sekali tidak mendapatkan murid baru.
Baca Juga: Prediksi Skor Belgia vs Mesir Piala Dunia 2026 Selasa 16 Juni Kick Off 02.00 WIB, Siapa Pemenangnya?
Nunuk menilai, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari ketimpangan antara jumlah kursi yang tersedia dengan jumlah calon peserta didik. Ia mengaku, pada tahun ini pihaknya membuka kuota penerimaan siswa baru tingkat SD sebanyak 13.804 kursi. Sedangkan yang diterima hanya 6.731 anak.
“Kalau ada sekolah yang kekurangan murid merupakan hal yang wajar karena memang kuotanya lebih banyak ketimbang calon murid baru," katanya.
Meski demikian, Nunuk memastikan proses SPMB tingkat SD berjalan lancar tanpa kendala berarti. Persoalan utama justru terletak pada semakin berkurangnya jumlah anak usia sekolah dasar di sejumlah wilayah. Terkait sekolah yang tidak memperoleh peserta didik baru, dinasnya telah menyiapkan langkah penataan melalui kebijakan regrouping.
"Kami memang memiliki rencana sembilan SD negeri yang tidak mendapatkan murid ini masuk dalam rencana regrouping,” tuturnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita