GUNUNGKIDUL – Akses jalan utama warga di Padukuhan Suruh, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari akhirnya mulai dicor blok tahun ini setelah hampir sembilan tahun menunggu pascaterjangan badai cempaka 2017 silam.
Infrastruktur yang sempat ambles dan hilang total akibat bencana tersebut kini dibangun permanen melalui program gotong royong dari Pemkab Gunungkidul.
Lurah Hargomulyo Sumaryanto mengatakan, bencana cempaka kala itu menyebabkan akses vital warga terputus. Jalan yang menjadi penghubung utama aktivitas pertanian, pendidikan, hingga layanan kesehatan mengalami kerusakan parah akibat longsor dan pergerakan tanah.
“Jalan itu putus, hilang, ambles. Setelah kejadian memang langsung dibuka lagi menggunakan alat berat bantuan dari Pemda DIY. Tetapi kondisinya masih berupa tanah dan belum bisa dilakukan pengecoran jalan,” kata Sumaryanto kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).
Dia menjelaskan, pemerintah kalurahan sejatinya sudah melakukan penanganan awal sejak 2017 agar akses masyarakat tetap bisa digunakan. Namun pembangunan permanen belum dilakukan karena kondisi tanah dinilai belum stabil dan masih membutuhkan proses pemadatan alami.
Kesempatan pembangunan permanen baru terealisasi tahun ini melalui program gotong royong Pemkab Gunungkidul yang dialokasikan untuk penanganan dampak kebencanaan.
Baca Juga: Mutasi Empat Kepala OPD Kulon Progo Tertunda Akibat Berkas Mandek di Tingkat Menteri
Bantuan sekitar Rp 30 juta digunakan sepenuhnya untuk pengadaan material pembangunan jalan. Sementara proses pengerjaan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat. Jalan cor blok yang dibangun memiliki panjang sekitar 150 hingga 200 meter.
“Antusias masyarakat sangat tinggi karena ini memang akses utama warga untuk kegiatan sehari-hari. Jalur ini juga menghubungkan ke jalan kabupaten,” ujarnya.
Ia menilai pembangunan tersebut menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam mempercepat pemulihan infrastruktur di wilayah pelosok dan rawan bencana di Gunungkidul. Terlebih, Padukuhan Suruh selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kondisi geografis paling sulit diakses di Gedangsari.
Baca Juga: Bahasa Inggris Masuk Kurikulum Sekolah Dasar, Disdikpora Kulon Progo Pastikan Sekolah Siap
Senada, Panewu Gedangsari Eko Krisdiyanto menjelaskan, sepanjang 2026 terdapat tujuh titik pembangunan strategis di wilayahnya. Rinciannya enam proyek cor blok jalan dan satu pembangunan talut di Padukuhan Tegalrejo.
Selain pembangunan infrastruktur jalan, pemkab juga mengalokasikan anggaran Rp 1,1 miliar untuk pembangunan TK negeri di Gedangsari.
“Ini juga sebagai upaya meningkatkan akses pendidikan di wilayah utara Gunungkidul tersebut,” imbuhnya.
Menurutnya, pola pembangunan berbasis gotong royong menjadi solusi di tengah semakin terbatasnya anggaran pembangunan fisik di tingkat kalurahan. Terlebih, kini anggaran desa untuk pembangunan infrastruktur hanya tersisa sekitar 25 persen.
Ia mencontohkan keberhasilan pola tersebut di Kalurahan Ngalang. Target pembangunan jalan sepanjang 116 meter bahkan mampu terealisasi hingga 130 meter berkat partisipasi aktif warga.
“Masyarakat itu sebenarnya tidak masalah kerja bakti, yang penting material tersedia. Semangat gotong royong masyarakat masih sangat kuat,” tandasnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita