GUNUNGKIDUL - Kesadaran masyarakat terhadap persoalan sampah plastik di Kabupaten Gunungkidul terus meningkat. Salah satunya terlihat di Padukuhan Jetis, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari yang telah lama menerapkan pembagian daging kurban tanpa kantong plastik saat momentum Idul Adha.
Lurah Hargomulyo Sumaryanta mengatakan, penggunaan besek bambu sebagai wadah pembagian daging kurban sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat sejak beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, kesadaran tersebut muncul dari persoalan sampah yang kerap memicu banjir saat musim hujan. Sampah plastik sering menumpuk di aliran sungai maupun jembatan ketika debit air meningkat.
“Kalau hujan, sampah plastik selalu menumpuk di jembatan dan aliran kali. Itu yang memicu kesadaran masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (27/5/2026).
Selain faktor lingkungan, penggunaan besek bambu juga dinilai memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Di wilayah Hargomulyo, kata dia, bambu sejak lama ditanam sebagai bagian mitigasi risiko tanah longsor karena mampu menjaga kestabilan tanah di kawasan perbukitan.
Seiring waktu, bambu-bambu tua kemudian dimanfaatkan warga menjadi berbagai kerajinan tangan, termasuk besek untuk dijual.
“Jadi selain ramah lingkungan, ini juga menjaga kawasan agar tidak rawan longsor,” katanya.
Dia menambahkan, kerajinan besek di Hargomulyo kini berkembang menjadi salah satu aktivitas ekonomi masyarakat. Permintaan biasanya meningkat menjelang Iduladha maupun hajatan warga.
“Ini juga memberdayakan ekonomi masyarakat lokal. Saat ada momentum seperti Iduladha , pesanan besek meningkat dan masyarakat bisa mendapatkan tambahan penghasilan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengembangan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Eko Suharso Pirhantoro menyebut, pihaknya telah merilis panduan pelaksanaan Idul Adha minim sampah. Panduan tersebut disusun untuk mendorong masyarakat menjalankan ibadah kurban secara ramah lingkungan sekaligus mengurangi timbulan sampah plastik selama pelaksanaan Iduladha.
“Kami ingin momentum kurban tidak hanya bermakna secara spiritual, tetapi juga tetap menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Selain menganjurkan penggunaan wadah ramah lingkungan seperti daun pisang, daun jati, besek bambu maupun wadah lokal lain yang mudah terurai. Pihaknya juga akan mendata jumlah masjid yang menerapkan konsep Iduladha ramah lingkungan.
Data itu, ia bisa dapat karena setiap lokasi penyembelihan kurban terdapat petugas DLH untuk melakukan pengumpulan dan pengangkutan sampah secara tertib. Pihaknya juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang limbah maupun jeroan hewan kurban ke sungai, telaga, atau sumber mata air karena berpotensi mencemari lingkungan.
“Satgas khusus juga akan diterjunkan di lapangan sebagai pengelola sampah sekaligus agen edukasi publik untuk pengurangan sampah plastik. Datanya hari ini belum mungkin terinput,” tandasnya (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita