GUNUNGKIDUL - Tingginya mobilitas kendaraan pengangkut sampah di simpang tiga akses menuju Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari, Baleharjo, Wonosari mendapat perhatian serius dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul. Kondisi jalan yang menikung dan menurun di jalur utama Wonosari-Semanu tersebut dinilai memiliki potensi kecelakaan lalu lintas cukup tinggi, sehingga diperlukan rekayasa lalu lintas.
Kepala UPT Kebersihan dan Pertamanan DLH Gunungkidul Heri Kuswantoro mengatakan, simpang menuju TPAS Wukirsari merupakan titik rawan karena berada di jalur nasional dengan arus kendaraan padat dan kecepatan tinggi. Merespons hal itu, pihaknya telah mengajukan surat permohonan penanganan kepada Dinas Perhubungan Gunungkidul sejak awal Mei. “Ini untuk menekan risiko kecelakaan yang cukup tinggi,” ujarnya Senin (25/5).
Menurut Heri, kondisi jalan di lokasi cukup berbahaya karena berada di tikungan menurun dari arah timur. Selain itu, di sisi barat simpang juga terdapat kawasan industri yang memicu tingginya mobilitas pekerja dan kendaraan setiap pagi.
Meski kecelakaan tidak terjadi setiap bulan, laporan dari masyarakat terkait kondisi rawan di simpang tersebut sudah beberapa kali diterima DLH. “Terutama saat jam ramai antara pukul 06.30 sampai 08.00 pagi,” rincinya.
Untuk sementara, DLH melakukan antisipasi mandiri dengan menempatkan dua petugas di simpang TPAS Wukirsari setiap pagi guna membantu mengatur arus kendaraan. Langkah tersebut, lanjut Heri, dilakukan agar kendaraan pengangkut sampah dapat keluar masuk TPAS dengan aman.
Baca Juga: Kapolres Sebut Teror Pocong Produk AI, Warga Kebumen Mengaku Tak Takut
Ia menugaskan dua petugas berjaga dari pukul 06.30 sampai 08.00. Sehingga 30 truk sampah yang keluar-masuk area TPAS, tidak menimbulkan kecelakaan.
Sementara itu, Kepala Seksi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Gunungkidul Patnawati mengatakan, pihaknya telah melakukan survei lapangan bersama BPTD Kelas II DIY di Simpang Tiga TPAS Wukirsari. Tim yang ia bawa telah melakukan identifikasi kondisi jalan, pola pergerakan kendaraan, hingga faktor risiko yang memicu kecelakaan.
“Di lapangan memang ditemukan kondisi jalan menikung dan menurun dari arah timur sehingga kendaraan cenderung melaju dengan kecepatan tinggi. Potensinya cukup besar menyebabkan kecelakaan,” ujarnya.
Selain faktor geometri jalan, tingginya aktivitas penyeberang jalan juga dinilai menjadi pemicu kecelakaan di lokasi tersebut. Dari hasil survei awal, kata dia, pihaknya merekomendasikan pemasangan rumble strip dan warning light sebagai langkah penanganan. Sementara pemasangan water barrier dinilai tidak memungkinkan karena justru berpotensi membahayakan pengguna jalan jika tertabrak kendaraan.
Rekomendasi tersebut saat ini telah diajukan kepada pihak PJN selaku pengelola jalan nasional. Namun, sambung dia, realisasi penanganan diperkirakan baru bisa dilakukan pada 2027 atau 2028. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita