Harga Bahan Pokok di Gunungkidul Mulai Bergerak, Pelemahan Rupiah Tekan Margin Pedagang
Yusuf Bastiar• Jumat, 22 Mei 2026 | 20:30 WIB
Pedagang cabai menunggu calon pembeli di Pasar Beringharjo, Kota Jogja, (3/2). Harga sejumlah bahan pokok mulai naik memasuki Ramadan.
GUNUNGKIDUL - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada pergerakan harga bahan pokok di Kabupaten Gunungkidul. Meski kenaikannya masih relatif pelan dan belum memicu gejolak besar di pasar tradisional, kondisi tersebut mulai mengancam margin keuntungan para pedagang dan pelaku usaha kecil.
Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengatakan, dampak pelemahan rupiah sudah mulai terlihat dari hasil pemantauan harga di sejumlah pasar tradisional. Komoditas yang paling terdampak ialah kebutuhan pokok yang memiliki keterkaitan dengan bahan impor maupun distribusi nasional. Kendati tetap berdampak pada kebutuhan yang paling banyak dicari masyarakat seperti tepung, gula dan minyak, ia menilai di Gunungkidul masih dalam posisi normal.
“Memang sudah ada dampaknya berdasarkan pantauan kami di pasar-pasar tradisional,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (22/5).
Menurut Kelik, bahan baku produksi yang bergantung pada impor mulai menunjukkan kenaikan harga. Berdasarkan hasil monitoring di pasar tradisional, harga kedelai impor kini mencapai Rp 13 ribu per kilogram. Sementara gula pasir curah berada di angka Rp 17 ribu per kilogram. Untuk minyak goreng premium dijual sekitar Rp 22 ribu per liter, sedangkan minyak goreng curah menyentuh Rp 22 ribu per kilogram.
Kelik menjelaskan, sebagian besar bahan pokok yang saat ini beredar di pasar tradisional sebenarnya masih berasal dari stok lama sebelum rupiah mengalami pelemahan lebih dalam. Karena itu, dampak lonjakan harga belum sepenuhnya terasa di tingkat konsumen.
“Kalau dilihat, bahan-bahan yang tersedia di pasar tradisional itu sebagian besar masih stok lama sebelum rupiah melemah,” paparnya.
Kelik mengaku, pihaknya mulai menerima keluhan dari pelaku usaha, terutama industri tahu dan tempe yang sangat bergantung pada kedelai impor. Kenaikan harga bahan baku dinilai mulai menekan biaya produksi pelaku UMKM pangan. “Untuk kedelai sendiri kami sudah menerima keluhan, meskipun belum begitu banyak,” imbuhnya.
Kelik berencana kembali melakukan monitoring harga dan distribusi kebutuhan pokok setelah iduladha usai. Ini dilakukan, kata diaz, sebagai upaya untuk memastikan kondisi pasar tetap stabil. Selain itu, pihaknya juga terus mengintensifkan operasi pasar sebagai langkah antisipasi menjaga kestabilan harga.
“Operasi pasar ini untuk menekan harga kebutuhan pokok agar tetap terkendali di pasar tradisional Gunungkidul,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT BPR Bank Daerah Gunungkidul Suci Sulistyawati menilai, tantangan terbesar saat rupiah melemah bukan hanya pelemahan kurs dolar, melainkan turunnya margin keuntungan pelaku usaha di tengah kenaikan biaya operasional dan belum pulihnya daya beli masyarakat.
“Tantangannya justru pada biaya produksi meningkat, daya beli belum stabil. Kenaikan harga minyak, bahan kemasan, dan bahan tambahan tertentu ikut menekan margin usaha,” ujarnya.
Menurut dia, dampak pelemahan rupiah di Gunungkidul memang tidak sebesar daerah industri yang bergantung penuh pada impor. Namun, lanjut dia, efek turunannya mulai dirasakan pelaku usaha lokal melalui kenaikan harga bahan baku dan biaya distribusi. Ia menambahkan, sejumlah barang kebutuhan usaha mengalami kenaikan harga karena rantai distribusi nasional ikut terpengaruh kurs dolar. Ia menilai, kondisi ekonomi Gunungkidul masih dalam tahap terkendali.
“Saat ini belum memasuki level yang mengkhawatirkan. Sektor perdagangan, kuliner, dan peternakan paling terdampak,” pungkasnya mengakhiri. (bas)