Sudah Berpengalaman Sejak 2022, Kader PKK Ngunut Incar Peran dalam Operasional SPPG di Ngunut
Yusuf Bastiar• Senin, 4 Mei 2026 | 00:00 WIB
Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS-LU) Kinasih Kalurahan Ngunut Martini
GUNUNGKIDUL - Sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) digulirkan pemerintah pusat, ibu-ibu di Padukuhan Krenen, Kalurahan Ngunut, Kapanewon Playen, ternyata telah lebih dulu menjalankan layanan pemenuhan gizi bagi balita, lansia, dan penyandang disabilitas. Ke depan, pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memastikan akan menggandeng kelompok masyarakat setempat, termasuk PKK.
Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS-LU) Kinasih Kalurahan Ngunut Martini mengungkapkan, sejak 2022 pihaknya telah menjalankan program permakanan bagi lansia dan disabilitas yang bersumber dari APBN. Program tersebut melibatkan kelompok masyarakat mulai dari proses memasak hingga distribusi.
“Selama ini kami melayani permakanan lansia dan disabilitas, dari memasak sampai mengantar. Alhamdulillah tidak pernah ada kendala, tidak ada kasus keracunan atau komplain,” ujarnya saat ditemui di Balai Padukuhan Krenen, Minggu sore (3/5/2026).
Namun, pada 2026 program tersebut mulai beralih ke skema MBG melalui dapur SPPG. Martini berharap, kelompok yang selama ini telah berpengalaman tetap dilibatkan dalam operasional ke depan.
“Kami berharap tetap dilibatkan, baik sebagai juru masak maupun pengantar. Bahkan kami juga siap memasok kebutuhan bahan, khususnya untuk lansia dan disabilitas,” katanya.
Ia menambahkan, dalam satu kali produksi sebelumnya, kelompoknya mampu menyediakan hingga 800 porsi per hari tanpa kendala. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi pertimbangan dalam pelibatan masyarakat lokal.
Senada, Ketua PKK Padukuhan Krenen Anjar Sumarni menyampaikan, selama ini kader PKK juga aktif menjalankan program pemberian makanan tambahan (PMT), terutama untuk penanganan stunting. Program tersebut berjalan rutin dengan dukungan dana desa maupun bantuan pemerintah.
“Setiap bulan ada kegiatan PMT, dan dalam setahun ada sekitar 120 hari pemberian makanan untuk penanganan stunting,” jelasnya.
Dengan hadirnya dapur SPPG di Kalurahan Dengok yang akan menyuplai MBG secara lebih intensif di Kalurahan Ngunut, pihaknya berharap kader PKK dapat dilibatkan, baik dalam pemasokan bahan baku maupun distribusi kepada sasaran penerima manfaat. “Kalau dari desa hanya sebulan sekali, tapi kalau SPPG bisa empat sampai lima kali seminggu. Harapannya ibu-ibu PKK dilibatkan, minimal di distribusi ke balita dan lansia,” imbuhnya.
Sementara itu, perwakilan Yayasan Bijana Paksi Sitengsu Nanang Kiwid memastikan, pembangunan dapur SPPG di Kalurahan Dengok memang dirancang untuk bersinergi dengan masyarakat hingga tingkat akar rumput. Kolaborasi dengan kader posyandu dan PKK menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program.
“Kami membutuhkan sinergi sampai ke tingkat bawah. Data penerima manfaat juga kami kumpulkan bersama kader posyandu yang sudah berpengalaman,” ujarnya.
Menurutnya, PKK memiliki pengalaman panjang dalam penanganan stunting, ibu hamil, hingga lansia. Karena itu, keterlibatan mereka dinilai krusial, terutama dalam aspek non-teknis seperti penyusunan menu dan distribusi.
“Secara teknis dapur kami yang menjalankan, tapi PKK akan memberikan banyak masukan, terutama terkait menu dan pengalaman di lapangan. Jadi memang akan ada kolaborasi,” tegasnya.
Ke depan, kata dia, sinergi antara SPPG dan kelompok masyarakat diharapkan mampu memperkuat efektivitas program MBG. “Ya, ini sekaligus memastikan manfaat ekonomi dan sosial dapat dirasakan langsung oleh warga setempat,” tandasnya. (bas)