Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BPBD Gandeng BRIN-UGM Teliti Longsor Clongop, Siapkan Langkah Mitigasi Permanen 

Yusuf Bastiar • Kamis, 30 April 2026 | 19:00 WIB
Longsoran pertama tanjakan Clongop pada tahun ini terjadi di awal Maret 2026. Yusuf Bastiar/Radar Jogja
Longsoran pertama tanjakan Clongop pada tahun ini terjadi di awal Maret 2026. Yusuf Bastiar/Radar Jogja
 
GUNUNGKIDUL - Pemkab Gunungkidul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan penelitian terkait longsor di tanjakan Clongop Padukuhan Plasan, Kalurahan Watugajah Kapanewon Gedangsari. 
 
Riset ini diharapkan menghasilkan rekomendasi penanganan dan mitigasi bencana secara komprehensif.
 
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, penelitian dilakukan selama tiga hari, mulai Kamis (30/4/2026) hingga Sabtu (2/5/2026).
 
Baca Juga: Pemprov Terbitkan Ingub terkait Pemetaan Daycare di Jogjakarta, HB X Minta SOP Diperketat
 
Fokus kajian meliputi kondisi kelembaban tanah, struktur geologi, serta potensi kerawanan longsor di kawasan tersebut.
 
“Kami menggandeng BRIN dan UGM untuk melakukan riset terkait longsoran di Clongop. Selama tiga hari ini tim melakukan survei lapangan untuk mengkaji kondisi tanah dan potensi longsor,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (30/4/2026).
 
Menurut dia, data yang diperoleh di lapangan akan dianalisis secara ilmiah oleh tim peneliti.
 
Baca Juga: Sikapi Penghematan, BPKAD Kota Jogja Mulai Data Kendaraan Dinas untuk Dilelang 
 
Hasil kajian tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan langkah mitigasi, baik yang bersifat preventif maupun penanganan permanen.
 
“Dari hasil riset nanti akan diketahui penyebabnya, sehingga bisa ditentukan langkah mitigasi yang tepat. Apakah langkah preventif atau penanganan permanen, kami menunggu rekomendasi dari hasil penelitian,” jelasnya.
 
Purwono menambahkan, hasil kajian tersebut juga akan dikoordinasikan dengan Pemprov DIY mengingat jalur Clongop merupakan jalan provinsi.
 
Baca Juga: Melonjak 16,6 Persen, Realisasi Investasi Sleman pada Triwulan I 2026 Naik Jadi Rp 1,15 Triliun
 
Kendati demikian, secara geografis lokasi berada di wilayah Gunungkidul sehingga tetap menjadi perhatian pemerintah kabupaten.
 
Dia mengakui, riset ini sangat membantu dalam upaya penanganan bencana berbasis ilmiah.
 
Terlebih, kejadian longsor di Clongop pada Ramadan lalu disusul delapan kali longsor susulan yang menjadi bahan evaluasi penting.
 
“Ini menjadi penggabungan antara pendekatan sains dan pengalaman kebencanaan yang kami miliki di lapangan,” tambahnya.
 
Baca Juga: Dishub DIY Siapkan Layanan Becak Kayuh dan Listrik Gratis di Malioboro, Upaya Pemberdayaan Moda Transportasi Tradisional
 
Sementara itu, Panewu Gedangsari Eko Krisdiyanto mengatakan, pihaknya turut mendampingi pelaksanaan riset di lapangan.
 
Kegiatan tersebut dinilai sebagai langkah penting dalam mengidentifikasi tingkat kerawanan longsor di wilayah Clongop.
 
“Tim melakukan observasi lapangan, pengambilan data, hingga peninjauan titik rawan sebagai bahan analisis ilmiah untuk menentukan upaya mitigasi yang tepat,” katanya.
 
Menurut dia, pendampingan ini menjadi bentuk sinergi antara pemerintah kapanewon, BPBD, lembaga riset, dan masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, khususnya tanah longsor saat musim hujan.
 
Baca Juga: Pacu Produksi Pangan Nasional, Kementan Tanam Padi Serentak dengan Luas 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi
 
Dengan adanya penelitian ini, ia berharap dapat muncul rekomendasi penanganan yang komprehensif sehingga upaya pencegahan, pengurangan risiko, serta perlindungan masyarakat dapat dilakukan secara lebih maksimal.
 
“Keselamatan warga adalah prioritas, dan mitigasi bencana merupakan ikhtiar bersama,” tandasnya. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#BPBD-UGM #mitigasi bencana #penelitian #Tanjakan Clongop #Longsor