GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul membuka peluang investasi baru di sektor industri manufaktur. Melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), pemkab menawarkan pengembangan industri garmen di Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Candirejo, Kapanewon Semin dengan nilai investasi mencapai Rp 51,6 miliar.
Langkah tersebut diambil seiring masih terbukanya pasar ekspor pakaian jadi yang menunjukkan tren pertumbuhan positif. Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah daerah, rata-rata pertumbuhan ekspor produk pakaian jadi mencapai sekitar 13,79 persen.
Kepala DPMPTSP Gunungkidul Mohamad Arif Aldian mengatakan, kondisi itu menunjukkan pasar garmen masih sangat potensial untuk dikembangkan secara berkelanjutan. “Industri garmen di Semin memiliki prospek sangat menjanjikan seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk pakaian jadi,” ujarnya Jumat (24/4).
Menurut dia, KPI Candirejo dipilih sebagai lokasi pengembangan karena memiliki sejumlah keunggulan strategis. Di antaranya ketersediaan lahan industri, aksesibilitas yang memadai, dukungan tenaga kerja lokal, serta lingkungan yang kondusif untuk kegiatan produksi. “Dengan berbagai keunggulan tersebut, kawasan ini diharapkan mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Gunungkidul,” katanya.
Baca Juga: Riko Simanjuntak Sebut Kemenangan di Balikpapan Buka Jalan Promosi bagi PSS Sleman
Berdasarkan hasil kajian finansial, proyek industri garmen tersebut dinilai layak dikembangkan. Sejumlah indikator investasi menunjukkan prospek positif. Sementara itu, Sekretaris DPMPTSP Gunungkidul Agus Budi Sulistya menjelaskan, tingkat pengembalian investasi atau Return on Investment (ROI) diproyeksikan mencapai 163 persen. Selain itu, Internal Rate of Return (IRR) berada di angka 13,71 persen dengan masa pengembalian modal sekitar tujuh tahun.
“Net Present Value juga menunjukkan proyek ini layak. Data tersebut menandakan investasi di sektor ini memiliki potensi keuntungan yang kompetitif dengan tingkat risiko terukur,” jelasnya.
Ia menilai, pengembangan industri garmen tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga membawa dampak ekonomi luas bagi masyarakat sekitar. Di antaranya membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan daerah, mendorong pertumbuhan sektor industri penunjang dan UMKM, serta memperkuat daya saing produk lokal di pasar nasional maupun internasional.
Agus menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen memberikan kemudahan perizinan, pendampingan investasi, dan menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi investor. “Kami mengajak pelaku usaha dalam maupun luar daerah untuk memanfaatkan peluang ini sebagai bagian dari kontribusi dalam pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” tandasnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita