GUNUNGKIDUL - Persoalan banjir yang terus berulang di Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari, tak kunjung menemukan solusi permanen.
Selama 36 tahun terakhir, sedimentasi parah di Jembatan ‘Crossway’ pada aliran Sungai Anakan Kali Oyo menjadi biang utama pendangkalan dan tersumbatnya aliran air.
Lurah Hargomulyo Sumaryanta mengungkapkan, banjir mulai terjadi sejak awal 1990-an dan hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi warga.
Baca Juga: Harga Avtur Naik dan Penonton Home Sepi, Cik Liana Pusing Atur Keuangan PSIM Jogja Tetap Sehat
Setiap hujan turun, material seperti kayu, bambu, hingga batang pisang kerap tersangkut di struktur crossway, sehingga menutup jalur air.
“Kalau sudah tersumbat, air langsung meluap. Tidak hanya ke jalan, tapi sampai ke lapangan sepak bola dan masuk ke bangunan TK di sebelah utara lapangan. Bahkan kami khawatir bisa sampai ke permukiman,” ujarnya saat ditemui di Balai Kalurahan, Rabu (15/4/2026).
Dia menjelaskan, warga selama ini harus berjibaku membersihkan tumpukan sampah saat musim hujan.
Baca Juga: Hadapi Tiga Tim Papan Bawah, PSS Sleman Wajib Menang di Tiga Laga Sisa demi Tiket Promosi Langsung
Upaya itu dilakukan secara swadaya demi mencegah banjir semakin meluas. Pun, warga sudah melakukan aktivitas pembersihan sejak 36 tahun lalu.
Setiap pagi setelah hujan, warga langsung kerja bakti membersihkan material yang menyangkut.
“Kemarin tumpukan sampah sudah dibersihkan, tadi malam hujan, pagi ini sudah penuh material sampah kayu lagi. Kami berharap sila kelima yang berbunyi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia berlaku di sini,” tegasnya.
Baca Juga: ASN Bermedsos, DPRD Kulon Progo Ingatkan Jangan Lupa Tugas Utama
Dampak banjir tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga pendidikan dan kesehatan warga.
Bahkan, pada 2025 lalu, banjir di lokasi tersebut menelan korban jiwa seorang pelajar SMP yang hanyut terbawa arus.
Warga Hargomulyo selalu berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan jembatan tersebut agar ancaman banjir yang telah berlangsung puluhan tahun dapat benar-benar berakhir.
“Ini sudah sangat memprihatinkan selama 36 tahun. Kami berharap ada solusi jangka panjang, bukan hanya pengerukan, tapi pembangunan jembatan baru agar sampah tidak lagi tersangkut,” sambugnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul Rakhmadian Wijayanto mengatakan, saat ini pemerintah tengah melakukan normalisasi sungai sebagai langkah penanganan jangka pendek.
Pengerjaan normalisasi menyasar aliran sepanjang 100 meter dan ditargetkan selesai dalam 10 hari kerja. Saat ini, proses pengerukan telah memasuki hari kedua.
“Selain pengerukan sedimentasi, kami juga melakukan pemangkasan di bagian tempuran agar aliran air tidak langsung menghantam tanggul yang berbatasan dengan jalan dan permukiman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, crossway yang ada saat ini memang memiliki keterbatasan karena awalnya dibangun sebagai solusi darurat.
Kondisi tersebut tidak ideal untuk menahan material sampah yang terbawa arus. Ia mengaku, pengerukan sedimentasi hanya solusi jangka pendek.
Untuk jangka panjang, pihaknya sudah mengajukan pembangunan jembatan pengganti ke pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri. Dan kini telah masuk prioritas pembangunan infrastruktur di Gunungkidul.
“Sudah diverifikasi, tinggal menunggu realisasi. Estimasi anggaran sekitar Rp 30 miliar. Karena ini jalan kabupaten, tentu menjadi tanggung jawab kami, tapi dengan keterbatasan anggaran daerah, kami berharap ada dukungan pusat,” paparnya.
Berdasarkan kajian bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, normalisasi yang dilakukan saat ini diperkirakan mampu menahan banjir hingga lima tahun ke depan.
Namun demikian, pembangunan jembatan tetap menjadi solusi utama.
“Kalau jembatan baru terealisasi, persoalan banjir bisa ditangani lebih tuntas. Apalagi di lokasi itu padat permukiman dan ada fasilitas pendidikan,” tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita