GUNUNGKIDUL – Pemkab Gunungkidul mulai mempercepat transformasi pembayaran nontunai di sektor pariwisata.
Salah satunya dengan mengalokasikan anggaran Rp 60 juta untuk pengadaan mesin mobile point of sales (MPOS) sebagai bagian dari uji coba sistem cashless di TPR Baron.
Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Gunungkidul Eko Nur Cahyo mengatakan, untuk mengimplementasikan ini masih menunggu dukungan perangkat dari Bank BPD DIY.
Baca Juga: Ribuan Warga Sambeng Datangi Polresta Magelang, Laporkan Dugaan Pemalsuan Dokumen untuk Izin Tambang
“Kami sudah mengajukan sekitar 15 unit mesin MPOS ke BPD DIY. Di sisi lain, kami juga menyiapkan pengadaan mandiri dengan anggaran Rp 60 juta,” ujarnya saat ditemui di Wonosari, Rabu (8/4/2026).
Eko menjelaskan, hasil survei menunjukkan harga mesin MPOS cukup variatif, mulai dari kisaran Rp 6 juta hingga Rp 15 juta per unit.
Beberapa perangkat memiliki sistem hybrid hingga full cashless berbasis QRIS.
Namun, pihaknya masih mengkaji opsi yang paling efisien dan aman, termasuk mempertimbangkan biaya operasional bulanan.
“Yang enam juta itu masih harus ada perawatan bulanan. Sedang harga yang lebih mahal tidak perlu begitu. Kami ingin memastikan sistem yang dipilih benar-benar optimal, baik dari sisi keamanan maupun efisiensi biaya,” katanya.
Selain pengadaan perangkat, kesiapan infrastruktur juga menjadi perhatian utama. Koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak seperti PLN, Bank BPD DIY, PDAM, dan diskominfo untuk memastikan dukungan jaringan listrik dan internet berjalan optimal.
Uji coba sistem pembayaran 100 persen nontunai di TPR Baron ini ditargetkan dapat diluncurkan paling lambat awal Mei 2026.
“Harapannya, sistem ini bisa meminimalisasi potensi kebocoran retribusi, mempercepat pelayanan, serta memberikan kemudahan bagi wisatawan,” jelasnya.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Gunungkidul Chairul Agus Mantara menambahkan, saat ini tengah menyiapkan perangkat lunak dan keras secara menyeluruh. Sistem yang ada saat ini masih kurang efisien.
“Selama ini satu transaksi bisa memakan waktu sekitar satu setengah menit. Ini tentu tidak efektif saat kunjungan wisatawan meningkat,” ujarnya.
Baca Juga: Resmi Dibuka Hari Ini, Jogja Food & Beverage Expo 2026 Hadirkan Ratusan Industri Makanan dan Minuman
Dengan penerapan MPOS, proses transaksi diharapkan lebih cepat dan mampu mengurai antrean di TPR.
Untuk tahap awal, sebanyak 15 unit mesin akan dipasang di beberapa titik, salah satunya di TPR Baron.
Ke depan, pemkab berencana mengajukan pengadaan mesin hingga 60 unit MPOS untuk seluruh TPR di Gunungkidul.
Baca Juga: Program Zero Jalan Rusak Masuk RKPD 2027 Kulon Progo, Targetnya 2029 Tercapai
Langkah ini menjadi pijakan awal digitalisasi sistem retribusi pariwisata di Gunungkidul, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke destinasi unggulan di wilayah tersebut.
“Ini bukan hanya soal peningkatan pendapatan, tapi juga pelayanan. Kalau pelayanan baik, maka PAD juga akan meningkat,” tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita