GUNUNGKIDUL - Kesabaran warga Padukuhan Jeruken dan Pijenen, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang akhirnya terbayar. Setelah 25 tahun sejak pipa terpasang tanpa pernah berfungsi, kini air bersih dari PDAM mulai mengalir ke rumah-rumah warga.
Dukuh Jeruken Winarsih mengungkapkan rasa syukurnya atas mengalirnya air bersih yang selama ini hanya menjadi harapan. Meski belum menjangkau seluruh rumah, kehadiran air PDAM itu sudah sangat membantu warga.
"Alhamdulillah sekarang sudah mengalir, meski belum semuanya. Dulu 25 tahun pipa tidak pernah terisi air, sekarang akhirnya bisa sampai ke rumah warga," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (7/4).
Selama ini, kata dia, warga harus membeli air bersih saat musim kemarau dengan biaya sekitar Rp 100 ribu per tangki untuk kebutuhan dua minggu. Dalam sebulan, setiap rumah tangga rata-rata mengeluarkan hingga Rp 200 ribu hanya untuk air.
Dari sekitar 140 rumah di wilayah itu, saat ini baru tersedia 30 titik sambungan rumah (SR). Sebelumnya, distribusi awal hanya mencakup enam titik, dengan masing-masing RT mendapatkan satu titik. Kecuali RT 2 dan 4 yang memperoleh dua titik.
"Memang masih terbatas, tapi ini sudah menjadi harapan besar bagi kami. Kami berharap ke depan jaringan bisa ditambah agar semua warga terlayani,” tambahnya.
Pemkab Gunungkidul pun memastikan aliran air bersih itu telah berjalan sejak awal pekan ini. Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyebut, kehadiran air PDAM diharapkan mampu mengurangi ketergantungan warga terhadap pasokan air tangki saat kemarau.
Baca Juga: Pegawai KDMP di Sleman Masih Berbasis Relawan, Adanya SPPI Berpotensi Menimbulkan Kecemburuan
"Air sudah mengalir untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga warga. Harapannya, ke depan warga tidak perlu lagi membeli air,” katanya.
Terkait keterbatasan sambungan, Endah mengakui belum semua warga dapat mengakses layanan itu, salah satunya karena kendala biaya pemasangan. Namun pemerintah telah menyiapkan skema bantuan melalui penyertaan modal yang disetujui DPRD untuk membantu warga kurang mampu.
"Untuk memaksimalkan, tahun depan direncanakan ada penambahan 40 sambungan rumah baru khusus untuk wilayah Jeruken dan Pijenen,” ungkap Endah.
Pemkab juga tengah menyiapkan pengembangan jaringan air bersih ke wilayah lain, termasuk Kapanewon Purwosari. Upaya ini merupakan tindak lanjut dari aspirasi masyarakat yang dihimpun dalam kegiatan safari Ramadan.
Untuk mendukung perluasan layanan, pemerintah mengandalkan potensi sumber air di kawasan Pantai Baron yang memiliki debit hingga 2.000 liter per detik. Sumber itu saat ini baru dimanfaatkan sekitar 57 liter per detik.
"Masih ada potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Gunungkidul,” jelas Endah.
Namun demikian, pengolahan air dari sumber tersebut membutuhkan anggaran besar, diperkirakan mencapai Rp 125 miliar. Saat ini usulan pendanaan telah diajukan ke pemerintah pusat.
Kendala lain yang dihadapi adalah kualitas air saat musim hujan yang cenderung keruh, sehingga belum dapat disalurkan secara optimal ke pelanggan. "Kami akan melakukan pengembangan jaringan air bersih agar dapat terus ditingkatkan sehingga memenuhi kebutuhan masyarakat secara merata," tandas Endah. (bas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita