GUNUNGKIDUL - Di sebuah rumah sederhana di Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari, deru mesin jahit tua masih terdengar pelan.
Di antara gulungan benang warna-warni dan tumpukan kain batik, Wardio tekun merapikan jahitan pada selembar seragam.
Tangannya cekatan, meski usia tak lagi muda. Sudah empat dekade lebih ia menekuni profesi sebagai penjahit.
“Kurang lebih sudah 40 tahun saya menjahit,” ujarnya saat ditemui di kiosnya sambil sesekali mengarahkan kain di bawah jarum mesin, Jumat (27/3/2026)
Wardio mulai membuka usaha jahitnya sejak 1990. Kala itu, lapaknya yang berada tak jauh dari Polsek Gedangsari selalu ramai, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Bahkan, satu bulan sebelum Lebaran, pesanan sudah berdatangan tanpa henti.
“Dulu itu ramai sekali. Orang-orang sudah bawa kain dari jauh-jauh hari untuk dibuat baju Lebaran, biasanya seragam keluarga,” kenangnya.
Baca Juga: Prediksi Skor Inggris vs Uruguay Pertandingan Persahabatan Sabtu 28 Maret 2026
Namun, suasana itu kini tinggal cerita. Sejak pandemi Covid-19 pada 2020, pesanan jahitan untuk kebutuhan Lebaran terus menurun drastis.
Bahkan pada Idul Fitri 2026 ini, Wardio mengaku tak menerima satu pun pesanan baju seragam keluarga.
“Tahun ini tidak ada sama sekali pesanan jahit baju Lebaran. Biasanya walaupun sedikit tetap ada, tapi sekarang benar-benar sepi,” tandasnya.
Baca Juga: Popda 2026 Jadi Sarana Pembibitan Atlet Porda 2027, Kulon Progo Ikuti 31 Cabor
Ia menduga perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi salah satu penyebab.
Kini, masyarakat cenderung memilih pakaian jadi yang praktis dan mudah didapat, termasuk busana seragam keluarga yang sudah banyak dijual di pasaran.
“Sekarang orang tinggal beli, sudah ada yang couple, tidak perlu menunggu lama seperti menjahit. Kalau menjahit kan harus ukur, beli kain, nunggu prosesnya,” jelasnya.
Baca Juga: Penerapan WFH ASN di Kulon Progo Tunggu Keputusan Pusat, Perlu Indikator Penilaian Kinerja
Meski demikian, Wardio tak lantas menggantungkan guntingnya. Ia tetap bertahan dengan menerima berbagai jenis jahitan lain, mulai dari seragam sekolah, pakaian dinas, hingga perbaikan pakaian rusak.
“Sekarang lebih banyak jahit seragam sekolah sama dinas. Kalau perbaikan baju juga lumayan banyak,” terangnya.
Untuk satu setel pakaian dewasa, Wardio mematok tarif sekitar Rp 150 ribu. Harga tersebut menurutnya masih wajar, namun diakui menjadi salah satu pertimbangan masyarakat yang kini lebih memilih alternatif pakaian jadi.
Di tengah perubahan zaman dan berkurangnya pesanan, Wardio memilih tetap bersyukur. Baginya, menjahit bukan sekadar pekerjaan, melainkan sumber penghidupan yang telah menemani perjalanan hidupnya.
Tiap hari ia selalu mengukur kain, menjahitnya menjadi pakaian. Ia membuka usahanya sejak pagi hingga sore, bahkan terkadang hingga malam. Jarum mesin jahitnya mungkin tak lagi sepadat dulu, tetapi semangatnya tetap terjaga, tetap menyulam harapan di tengah kesepian.
“Saya sudah hidup dari sini. Ada atau tidak ada pesanan tetap saya jalani,” ucapnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita