GUNUNGKIDUL - Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan arah pembangunan pariwisata di Bumi Handayani tidak akan meniru identitas budaya daerah lain, termasuk Bali.
Penataan destinasi dilakukan dengan tetap menjaga karakter lokal, sejarah, serta arsitektur khas Jogjakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul arahan GKR Mangkubumi yang mengingatkan agar pengembangan objek wisata di DIY tidak sekadar meniru secara visual destinasi wisata di Bali.
“Sesuai arahan GKR Mangkubumi, pengembangan wisata tidak boleh hanya meniru daerah lain, terutama Bali. Gunungkidul harus punya identitas sendiri, bahkan kalau perlu melihat kajian sejarahnya. Zaman dulu pembangunan Gunungkidul seperti apa,” ujar Endah saat ditemui di Pantai Sepanjang pada Kamis, (12/2/2026).
Ia mencontohkan, dana keistimewaan selama ini mendorong pembangunan dengan arsitektur khas Jogja, termasuk program bedah rumah beridentitas Yogyakarta.
Prinsip yang sama, menurutnya, harus diterapkan dalam pembangunan destinasi wisata.
“Tidak perlu meniru Bali lalu merusak bentang alam dengan membuat venue buatan. Kita manfaatkan alam yang sudah tersedia,” tegasnya.
Terkait isu penataan Pantai Sepanjang yang disebut-sebut akan diubah menyerupai Pantai Jimbaran Bali, Endah meluruskan bahwa yang diadopsi adalah sistem pemberdayaan UMKM, bukan konsep budaya atau arsitekturnya.
Ia menegaskan, tidak ada penjiplakan corak budaya, baik dari sisi bangunan maupun ornamen. Penataan tetap mengedepankan identitas Gunungkidul.
“Yang kita tiru adalah sistem UMKM-nya. Di Jimbaran, malam hari menjadi pusat kuliner. Itu yang kita adaptasi di Pantai Sepanjang, tentu dengan pengawasan SAR dan mempertimbangkan kondisi cuaca. Pagi harinya pantai harus kembali bersih dan steril,” jelasnya.
Endah juga menekankan, setiap investor yang akan membangun di kawasan pantai wajib memaparkan Detail Engineering Design (DED) dan rencana pembangunan secara terbuka.
Hal ini untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi, termasuk status Sultan Ground, lahan pertanian dilindungi, maupun lahan pertanian berkelanjutan.
“Regulasinya harus jelas. Jangan sampai pembangunan melanggar tata ruang atau merusak lingkungan,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafpora) Gunungkidul Hary Sukmono menjelaskan, penataan Pantai Sepanjang tahap awal difokuskan pada penertiban kios agar tidak menghalangi pandangan wisatawan ke bentang garis pantai.
“Wisatawan harus bisa langsung melihat garis pantai yang memanjang tanpa terhalang kios,” ujarnya.
Konsep yang diterapkan memungkinkan pedagang menggelar meja dan kursi lipat pada malam hari untuk mendukung aktivitas wisata 24 jam.
Namun, pada pagi hingga sore hari area pasir harus kembali steril.
Hary optimistis, dengan pendekatan berbasis identitas lokal dan sistem pemberdayaan ekonomi yang terukur, pariwisata Gunungkidul akan tumbuh tanpa kehilangan jati diri.
“Secara budaya tidak ada penjiplakan. Kami hanya mencoba menerapkan sistemnya untuk meningkatkan daya tarik kunjungan wisatawan. Dan ini terbukti efektif,” jelasnya. (bas)
Editor : Iwa Ikhwanudin