GUNUNGKIDUL - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta belum menemukan jejak satwa yang diduga macan di wilayah Panggul Kulon, Candirejo, Semanu, Gunungkidul.
Dari tiga kamera trap yang dipasang sekitar lokasi, justru menangkap pergerakan sejumlah satwa lain yang kerap melintas di area itu pada hari kedelapan.
Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Yogyakarta Taufan Kharis mengatakan, hasil pengecekan kamera trap menunjukkan adanya musang, kucing, dan anjing yang terekam baik pada pagi maupun malam hari.
Kemunculan musang bahkan terekam sampai tiga kali di hari yang berbeda. “Begitu juga kucing dan anjing. Dari tiga kamera yang terpasang sejak Selasa 20 Januari lalu, nah satwa yang terekam itu,” katanya saat dikonfirmasi Rabu (28/1/2026).
Taufan menjelaskan, ketiga jenis satwa tersebut memang tergolong sering terlihat di sekitar lokasi kemunculan jejak yang sebelumnya diduga sebagai jejak macan.
Sementara itu, hingga saat ini belum ada rekaman yang mengarah pada keberadaan satwa dilindungi tersebut. “Untuk macan, kamera trap belum merekam sama sekali,”ujarnya.
Kendati demikian, pemantauan masih akan dilanjutkan. Pemasangan kamera trap direncanakan berlangsung hingga sepekan ke depan sebelum akhirnya diambil dan dianalisis secara menyeluruh.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan guna memastikan identitas satwa yang meninggalkan jejak di sekitar proyek pembangunan pondok pesantren di Panggul Kulon.
“Ini untuk memastikan apakah satwanya memang itu-itu saja dan sebagai penguat bahwa jejak tersebut bukan jejak macan,” jelas Taufan.
Baca Juga: Jop van der Avert Dirumorkan Merapat, Van Gastel Sudah Puas dengan Skuad PSIM Jogja
Menurutnya, sejak awal pihaknya telah menduga jejak yang ditemukan bukanlah jejak macan.
Dugaan tersebut muncul setelah dilakukan pengamatan visual terhadap bentuk jejak. Kendati demikian, pemasangan kamera trap tetap dilakukan untuk menguatkan hasil dan memastikan secara ilmiah.
Hasil akhir dari pemasangan kamera trap, nantinya akan menjadi dasar penentuan jenis satwa yang sebenarnya beraktivitas di lokasi tersebut.
Sehingga ia dapat memastikan tidak adanya ancaman satwa liar berbahaya bagi masyarakat sekitar.
“Dari awal melihat jejaknya, kami menduga itu jejak anjing,” terangnya.
Sebelumnya, berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, temuan jejak satwa pertama kali dilaporkan pada 31 Desember 2025.
Jejak tersebut berukuran besar, menyerupai telapak kaki sapi. Selanjutnya, jejak serupa kembali ditemukan pada Selasa (12/1/2026) dan terakhir pada Rabu (14/1/2026) malam di area yang tidak jauh dari lokasi proyek pembangunan pesantren.
Warga Padukuhan Panggul Kulon Heru Purwanto menyebut, selain temuan jejak, salah seorang petani juga mengaku pernah berpapasan langsung dengan satwa liar menyerupai macan.
“Kejadiannya Senin pagi 11 Januari 2026, sekitar pukul 06.00,” ujarnya.
Meski demikian, selama ini tidak pernah terjadi konflik antara warga dengan satwa tersebut.
Dia mengaku, bertemu macam di area pertanian sudah menjadi hal yang lumrah. Sebab, warga di Padukuhan Panggul Kulon tidak pernah mengganggu kehadiran macan, sehingga macan pun tidak menyerang warga saat berpapasan. “Selama tidak diganggu, dia juga tidak mengganggu,” ujarnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita