Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lagi, Fenomena Tanah Ambles Terjadi di Kemiri: Klaim Tak Membahayakan, Aktivitas Pertanian Tetap Berjalan

Yusuf Bastiar • Jumat, 23 Januari 2026 | 18:50 WIB
MASIH AMAN: Amblesan sedalam satu meter di area lahan padi di Padukuhan Panggang Kalurahan Kemiri Tanjungsari Gunungkidul.
MASIH AMAN: Amblesan sedalam satu meter di area lahan padi di Padukuhan Panggang Kalurahan Kemiri Tanjungsari Gunungkidul.

GUNUNGKIDUL - Fenomena tanah ambles kembali terjadi di wilayah Kalurahan Kemiri Kapanewon Tanjungsari Gunungkidul.

Kali ini, amblesan ditemukan di lahan pertanian warga Padukuhan Panggang dengan kedalaman satu meter.

Meski demikian, kejadian tersebut dinilai tidak membahayakan sehingga aktivitas pertanian tetap berlangsung seperti biasa.

Dukuh Panggang Suryadi mengatakan, tanah ambles terjadi di lahan pertanian yang saat ini masih ditanami padi dan jagung.

“Amblesannya tidak terlalu dalam, kisaran satu meter saja. Diameter juga tidak besar. Tanaman padi di lokasi ikut ambles ke bawah,” terangnya saat dihubungi Jumat (23/1/2026).

Suryadi menjelaskan, kejadian tersebut sudah berlangsung sekitar sepekan lalu. Hal itu bertepatan dengan hujan deras yang mengguyur wilayah setempat pada 12 Januari lalu.

Karena dinilai tidak membahayakan dan sudah menjadi kejadian yang lazim, petani tidak melaporkan peristiwa itu ke pihak kalurahan.

“Petani masih tetap beraktivitas sampai nanti musim panen. Karena amblesannya kecil dan tidak dalam, dianggap biasa,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Lurah Kemiri, Payadi. Ia menuturkan, kejadian tanah ambles di wilayahnya bukan kali pertama terjadi.

Sekitar lima tahun lalu, amblesan tanah pernah muncul di Padukuhan Dayakan dengan ukuran yang relatif kecil.

Kejadian serupa kembali terjadi di lokasi yang sama pada 2025 dengan diameter sekitar satu meter.

Selain itu, pada 2023 lalu, tanah ambles juga terjadi di Padukuhan Karangnongko dengan diameter mencapai sekitar 10 meter, meski kedalamannya tidak terlalu dalam.

“Sekarang kembali terjadi di Padukuhan Panggang, dengan diameter dan kedalaman sekitar satu meter,” jelas Payadi.

Selama ini, penanganan amblesan tanah di Kemiri dilakukan secara sederhana oleh warga.

Lahan di sekitar lokasi amblesan dicangkul dan diuruk agar permukaan tanah kembali rata.

“Sistem pertanian di sini tadah hujan. Amblesan biasanya muncul saat musim hujan, ketika lahan sedang produktif ditanami padi atau jagung,” terangnya.

Proses pengurukan umumnya dilakukan setelah masa panen selesai, sekaligus sebagai persiapan musim tanam berikutnya.

Cara tersebut selama ini dinilai cukup aman. “Kedalamannya tidak membahayakan. Bahkan yang paling lebar, sekitar 10 meter, setelah diuruk kondisinya kembali rata dan tidak menimbulkan risiko,” bebernya.

Meski tidak dilaporkan secara resmi, pemerintah kalurahan tetap melakukan pemantauan dan pendataan lokasi-lokasi tanah ambles yang terjadi di wilayah Kemiri.

“Kami tetap mengumpulkan informasi dan memantau kondisi di lapangan,” tambahnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#tanah ambles #lahan padi #Gunungkidul #lahan pertanian