Temuan tersebut tercatat sudah terjadi tiga kali dalam kurun waktu sebulan terakhir.
Merespon hal tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta turun tangan dengan memasang kamera trap di tiga titik.
Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Jogjakarta Taufan Kharis mengatakan, pemasangan kamera trap merupakan tindak lanjut atas laporan masyarakat terkait dugaan keberadaan macan di sekitar lokasi proyek pembangunan pondok pesantren.
Taufan menjelaskan, kamera trap akan dipasang selama kurang lebih dua pekan. Selama periode tersebut, petugas akan melakukan pemantauan rutin setiap minggu guna memastikan jenis satwa yang terekam.
“Hari ini kami memasang kamera trap untuk pemantauan. Ada tiga kamera yang kami pasang di tiga titik yang diduga menjadi lintasan satwa berdasarkan laporan warga,” ujarnya saat ditemui di lokasi pemasangan pada Selasa, (20/1/2026).
Ia mengaku, dalam pemilihan lokasi pemasangan kamera trap, pihaknya menyesuaikan masukan dari masyarakat.
Ia menambahkan, kamera trap bekerja dengan sensor gerak dan panas, sehingga setiap pergerakan akan terekam.
“Baik itu satwa, manusia, maupun pergerakan lain. Harapannya dari data ini masyarakat bisa lebih tenang karena ada kepastian,” terangnya.
Pemasangan kamera trap ini menjadi bagian dari komitmen BKSDA Jogjakarta dalam merespons laporan warga secara cepat dan profesional.
Selain itu, pihaknya juga ingin memastikan keselamatan masyarakat dan perlindungan satwa liar tetap berjalan seimbang.
Taufan menegaskan, hasil rekaman kamera trap akan menjadi dasar langkah lanjutan BKSDA.
“Kalau memang satwa liar, tentu ada prosedur penanganan. Namun jika bukan satwa yang membahayakan, akan kami sampaikan ke masyarakat,” tegasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, temuan jejak satwa pertama kali dilaporkan pada 31 Desember 2025.
Jejak tersebut berukuran besar, menyerupai telapak kaki sapi. Selanjutnya, jejak serupa kembali ditemukan pada Selasa (12/1/2026) dan terakhir pada Rabu malam (14/1/2026) di area yang tidak jauh dari lokasi proyek pembangunan pesantren.
Warga Padukuhan Panggul Kulon Heru Purwanto menyebut, selain temuan jejak, salah seorang petani juga mengaku pernah berpapasan langsung dengan satwa liar menyerupai macan.
“Kejadiannya Senin pagi 11 Januari 2026, sekitar pukul 06.00,” ujarnya.
Meski demikian, Heru menegaskan selama ini tidak pernah terjadi konflik antara warga dengan satwa tersebut.
Menurutnya, bertemu macam di area pertanian sudah menjadi hal yang lumrah. Sebab, kata dia, warga di Padukuhan Panggul Kulon tidak pernah mengganggu kehadiran macan, sehingga macan pun tidak menyerang warga saat berpapasan.
“Selama tidak diganggu, dia juga tidak mengganggu,” ujarnya.
Ia menyebut kemunculan satwa liar tersebut cenderung terjadi saat musim kemarau. Menurutnya, keberadaan telaga di area lahan pertanian menjadi penyebab seringnya warga melihat jejak maupun bertemu macan secara langsung.
“Di sini ada telaga yang menjadi sumber air. Lokasinya juga dekat dengan lahan pertanian warga,” pungkasnya. (bas)
Editor : Bahana.