Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat total kerugian sementara mencapai Rp94,5 juta, dengan sebaran kejadian di 13 kapanewon dan 20 kalurahan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta mengatakan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang memicu sejumlah bencana hidrometeorologi, mulai dari pohon tumbang, talud longsor, hingga kerusakan jaringan listrik.
“Peristiwa terjadi sejak siang hingga malam hari. Laporan masuk bertahap dari wilayah terdampak, seluruh kejadian telah kami lakukan penanganan awal,” ujar Ed saat dikonfirmasi wartawan pada Minggu, (11/1/2026).
Berdasarkan data BPBD, dampak cuaca ekstrem tersebut meliputi kerusakan fasilitas pribadi berupa lima rumah dan dua kandang ternak.
Selain itu, satu bangunan usaha juga dilaporkan terdampak.
Pada sektor infrastruktur, tujuh ruas jalan terganggu akibat material longsoran dan pohon tumbang, 10 talud mengalami kerusakan, serta satu titik jaringan listrik terdampak. Sementara itu, fasilitas umum yang terdampak meliputi dua sekolah.
“Untuk korban jiwa tidak ada. Tidak ada laporan korban luka maupun meninggal dunia,” jelas Edy.
Ia menambahkan, BPBD bersama tim gabungan dari relawan, TNI, Polri, pemerintah kalurahan, dan masyarakat setempat langsung melakukan asesmen cepat, pembersihan material, serta pendistribusian bantuan darurat di lokasi kejadian.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menegaskan bahwa pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan, mengingat potensi cuaca ekstrem masih tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama yang tinggal di wilayah rawan longsor, bantaran sungai, dan daerah dengan banyak pohon besar,” ujar Purwono.
Ia juga meminta masyarakat segera melaporkan ke pemerintah kalurahan atau BPBD jika menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan, seperti tanah retak, pohon miring, atau saluran air tersumbat.
BPBD Gunungkidul, lanjut dia, merekomendasikan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan deras yang berpotensi disertai angin kencang.
Selain itu, pembersihan saluran air dan pengecekan kondisi bangunan menjadi langkah antisipasi untuk meminimalkan risiko bencana susulan.
“Penanganan darurat sudah kami lakukan, dan selanjutnya akan kami koordinasikan untuk langkah pemulihan sesuai tingkat kerusakan di masing-masing lokasi,” pungkas Purwono. (bas)
Editor : Bahana.