Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Persoalan Sampah Masih Menjadi Pekerjaan Rumah di Gunungkidul! DLH Sebut Ibu-ibu PKK Jadi Motor untuk Pengolahan

Yusuf Bastiar • Rabu, 17 Desember 2025 | 22:55 WIB
Aktivitas pembuangan sampah TPAS Wukirsari
Aktivitas pembuangan sampah TPAS Wukirsari

GUNUNGKIDUL - Peran ibu-ibu PKK dinilai menjadi kunci dalam upaya pengolahan sampah rumah tangga di Gunungkidul.

Melalui gerakan Masyarakat Gunungkidul Mandiri Olah Sampah (MasGun Maos), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menempatkan kader PKK sebagai motor penggerak pengurangan sampah organik langsung dari sumbernya.

Kepal DLH Gunungkidul Hary Sukmono mengatakan, keterlibatan PKK sangat krusial karena memiliki basis massa hingga tingkat padukuhan.

“Kader PKK sebagai garda terdepan dalam upaya pengurangan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik,” ujar Hary saat ditemui di Playen pada Rabu, (17/12/2025).

Saat ini, kata dia, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kapanewon, hingga kalurahan telah memiliki Satgas Siaga Sampah, dengan kader PKK menjadi bagian inti sesuai tingkatan masing-masing.

Ia menyebut, MasGun Maos ini merupakan gerakan bersama. “Tujuannya mempercepat pengurangan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan mengolah sampah organik langsung di rumah,” ujarnya.

Hary menjelaskan, persoalan sampah rumah tangga di Gunungkidul masih menjadi tantangan serius.

Setiap hari, masyarakat Gunungkidul secara kolektif menghasilkan sekitar 380 ton sampah. Angka tersebut berasal dari perhitungan rata-rata produksi sampah per orang sebesar 0,49 kilogram per hari.

Melalui pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga, ia berharap beban TPA dapat berkurang secara signifikan.

Selain itu, program ini juga diarahkan untuk mendukung keberlanjutan pangan di Gunungkidul.

“Dari total 380 ton sampah harian itu, sekitar 47 persen merupakan sampah organik, terutama sisa olahan dapur dan sisa makanan. Inilah yang menjadi fokus MasGun Maos,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengembangan Kapasitas DLH Gunungkidul Eko Suharso Pirhantoro menyebut, metode pengolahan yang diterapkan dalam MasGun Maos bersifat sederhana dan mudah diaplikasikan masyarakat.

Menurut Eko, sampah organik yang diolah melalui metode jugangan nantinya dapat dimanfaatkan sebagai rabuk atau pupuk saat musim tanam.

Selain itu, sisa makanan juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak rumah tangga seperti ayam atau bebek.

“Metodenya menggunakan ember tumpuk dan jugangan. Jugangan ini memanfaatkan kearifan lokal masyarakat pedesaan yang masih memiliki lahan untuk membuat lubang sampah,” tegasnya.

MasGun Maos sendiri merupakan pengembangan lanjutan dari gerakan HOMPIMPAH (Hobi Memilah dan Punguti Sampah dari Rumah) yang telah digulirkan DLH sejak dua tahun lalu.

Jika sebelumnya masyarakat didorong membangun budaya memilah sampah, kini fokus ditingkatkan pada pengolahan sampah organik langsung dari sumbernya.

“MasGun Maos ini lebih progresif. Masyarakat tidak hanya memilah, tetapi juga mengolah sampah dapur menjadi sesuatu yang bernilai guna,” imbuhnya.

Program ini diperkuat dengan dua surat edaran Bupati Gunungkidul tahun 2025 dan diintegrasikan dengan Gerbang Pagi (Gerakan Pengembangan Pangan dan Gizi) milik Dinas Pertanian dan Pangan.

Melalui integrasi tersebut, kompos hasil olahan sampah organik dimanfaatkan untuk mendukung budidaya pangan keluarga atau family farming.

“Dengan skema ini, tercipta siklus ekonomi sirkular. Sampah organik kembali ke tanah untuk mendukung ketersediaan pangan dan gizi keluarga,” pungkas Eko. (bas)

Editor : Bahana.
#PKK #DLH