Sementara itu, pupuk urea terserap 10.737 ton dari total alokasi 15.363 ton atau sekitar 70 persen.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, tingginya serapan pupuk NPK dibandingkan urea menjadi indikator perubahan pola pemupukan di tingkat petani.
“Ini menunjukkan petani mulai beralih ke pemupukan berimbang sesuai rekomendasi teknis, tidak lagi bergantung pada pupuk tunggal seperti sebelumnya,” ujarnya saat ditemui di Wonosari pada Senin, (15/12/2025).
Namun demikian, untuk pupuk NPK Formula Khusus, hingga kini belum terdapat realisasi penyerapan. Dari alokasi 18 ton pada tahun berjalan, serapan masih tercatat 0 ton.
Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah kabupaten agar penyerapan dapat digenjot hingga akhir tahun.
Rismiyadi menambahkan, meningkatnya serapan pupuk subsidi tahun ini juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat terkait penurunan harga pupuk subsidi yang diberlakukan secara nasional.
Kebijakan tersebut dinilai membuat akses dan keterjangkauan pupuk bagi petani semakin baik, terutama menjelang musim tanam.
“Penurunan harga pupuk subsidi sangat membantu petani. Mereka lebih mudah menjangkau dan memanfaatkannya untuk kebutuhan produksi. Dampaknya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian,” jelasnya.
Untuk memastikan ketersediaan dan penyaluran pupuk berjalan optimal, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul terus berkoordinasi dengan distributor serta kelompok tani.
Pengawasan distribusi pupuk subsidi juga dilakukan melalui sistem digital dan kelembagaan resmi, seperti kelompok tani dan kios distributor. Menurutnya, langkah ini ditempuh agar penyaluran tepat sasaran.
“Kami optimistis serapan pupuk bisa terus meningkat hingga akhir tahun, termasuk untuk NPK Formula Khusus yang saat ini belum terealisasi,” imbuh Rismiyadi.
Sementara itu, Sekretaris DPP Gunungkidul Raharjo Yuwono mengimbau, petani untuk segera melakukan penebusan pupuk sesuai jatah yang telah ditetapkan.
Ia juga menekankan pentingnya pembaruan data kios maupun Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).
“Sebagian wilayah Gunungkidul sudah mulai memasuki masa tanam pertama yang membutuhkan ketersediaan pupuk dalam jumlah cukup. Karena itu, petani diharapkan segera menebus pupuk agar kebutuhan produksi tidak terkendala,” katanya. (bas)
Editor : Bahana.