GUNUNGKIDUL - Serangan monyet ekor panjang kembali menghantui para petani di kawasan selatan Gunungkidul.
Terutama di dua kalurahan yakni Purwodadi dan Sidoharjo, Kapanewon Tepus. Bahkan, satwa liar tersebut merusak sejak masa tanam.
Akibatnya para petani mengalami kerugian berulang.
Petani Kalurahan Sidoharjo, Tepus, Sumarno mengatakan, koloni monyet ekor panjang itu datang merusak lahan sebelum benih sempat bertunas.
Biasanya, musim hujan sebagai momentum para petani menyiapkan lahan untuk menanam berbagai jenis benih seperti kacang tanah dan jagung.
“Petani sudah nyangkul, sudah nanam, tinggal nunggu tumbuh. Tapi sebelum tumbuh, benih-benih itu sudah dirusak sama monyet ekor panjang. Monyetnya itu dongkel benih pakai tangan,” ujarnya saat ditemui wilayah Kalurahan Sidoharjo Minggu (9/11/2025).
Dia menjelaskan, serangan tidak dilakukan satu atau dua ekor saja melainkan satu koloni yang bisa mencapai 10 hingga 20 ekor.
Para petani di pesisir selatan Gunungkidul disebut mengalami persoalan serupa. Serangan monyet tidak hanya terjadi saat musim panen atau ketika buah mulai muncul, tetapi juga sejak awal musim tanam.
Padahal, musim hujan seharusnya menyediakan sumber makanan alami di dalam hutan.
“Kalau sebanyak itu, satu lahan bisa habis. Belum tumbuh sudah gagal. Pertanian ini kan sumber penghasilan satu-satunya bagi petani di Gunungkidul,” tandasnya.
Dia mengaku para petani sudah berupaya melakukan penjagaan. Namun serangan biasanya terjadi pada sore hari sekitar pukul 17.30, saat petani sudah meninggalkan lahan.
Pemasangan jaring keliling pun dilakukan, tetapi membutuhkan biaya tambahan yang cukup besar. “Jaring itu modalnya ratusan ribu.
Harus pasang penyangga sendiri karena kalau lewat pohon, pohon itu jadi jalur monyet masuk,” jelasnya.
Harapan petani kini tertuju pada pemerintah kabupaten (pemkab) untuk mengambil langkah tegas.
“Hama monyet ini berkembang biak cepat. Kalau hama wereng atau ulat kan masih bisa diantisipasi. Ini sejam dua jam saja lahan bisa rusak,” jelasnya.
Keluhan senada disampaikan petani dari Kalurahan Purwodadi Tepus, Bambang Abdul Sulur. Ia menyebut serangan monyet sudah terjadi sejak benih ditanam.
Bibit singkong yang sudah ditancapkan pun dicabut habis oleh kawanan monyet.
Akibatnya, kata dia, tetangga sekitar sampai memutuskan tidak menanami lahannya tahun ini. Sebab, benih yang sudah disebar dirusak monyet.
Petani, sudah melakukan berbagai cara, mulai dari memasang jaring hingga memberi makanan agar monyet tidak masuk ke lahan.
Namun upaya tersebut dianggap tidak efektif. “Petani sudah maksimal berusaha, tapi tetap saja diserang. Pemkab Gunungkidul harapan kami bisa ambil tindakan jelas. Monyet ini sudah jadi hama yang meresahkan,” tegasnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita