GUNUNGKIDUL - Suasana belajar di SMK Negeri Saptosari, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, berubah menjadi kepanikan, pada Rabu (29/10). Setelah ratusan siswa mengeluhkan gejala mual, pusing, lemas, dan diare.
Kejadian tersebut diduga berkaitan dengan konsumsi menu makan bergizi gratis (MBG) yang disuplai dari dapur SPPG Planjan pada Selasa (28/10). Sekolah menyebut antrean di toilet sempat memanjang karena banyak siswa mengeluhkan diare.
Hingga sore hari, tiga siswa masih dirawat dengan infus di Puskesmas Wonosari, sementara puluhan lainnya telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan. Kepala sekolah SMK Negeri Saptosari, Markidin Parikesit menjelaskan, gejala yang dialami para siswa mulai muncul sejak Selasa sore, sepulang sekolah.
Namun, sebagian besar siswa baru melaporkan keluhan pada Rabu pagi saat proses pembelajaran dimulai. “Tiga siswa yang masih dirawat di Puskesmas Purwosari itu karena infusnya biar habis,” ujar Markidin saat ditemui bernada Puskesmas pada Rabu, (29/10).
Dari pendataan yang dilakukan wali kelas, jumlah siswa yang terdampak cukup besar. Sekitar 400 siswa melaporkan keluhan seperti diare, mual, pusing, dan lemas. Bahkan, antrean di toilet sekolah sempat memanjang karena banyak siswa yang harus bolak-balik akibat gangguan pencernaan.
“Datanya banyak, di UKS ada pelayanan juga meningkat ada puluhan anak. Di toilet juga terjadi antrean panjang siswa yang masih bisa bergerak karena mengeluh diare,” jelasnya.
Baca Juga: Deretan Filmografi River Phoenix, Aktor Muda Berbakat yang Meninggal di Usia 23 Tahun
Menurutnya, sejak pagi pihak sekolah sudah menyiapkan langkah penanganan cepat dengan memanfaatkan UKS sebagai pos kesehatan darurat. Namun, karena jumlah siswa yang sakit terus bertambah, pada pukul 10.00 pagi sekolah memutuskan merujuk 26 siswa ke Puskesmas Saptosari untuk pemeriksaan medis lebih lanjut.
“Mobil sekolah serta kendaraan pribadi para guru dikerahkan untuk mengantar siswa yang membutuhkan perawatan ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.
Markidin mengaku sekitar pukul 11.00, ratusan siswa lain yang kondisinya lebih baik dipulangkan agar bisa beristirahat di rumah. Diakuinya, kejadian ini sempat mengganggu proses pembelajaran karena banyak siswa yang keluar masuk kelas menuju toilet dan UKS.
“Seperti yang lain keadaannya sudah membaik. Hanya tinggal menghabiskan infus sebelum pulang,” tambahnya.
Salah satu wali murid SMK Negeri Saptosari Rusdiyanto mengaku terkejut ketika mengetahui anaknya harus dirawat di puskesmas. Ia tidak menyangka penyebabnya kemungkinan berasal dari makanan sekolah. Ia menyebut anaknya sempat mengeluhkan kondisi tubuhnya yang lemas dan pusing pada Selasa malam (28/10). Kendati demikian, pagi harinya, buah hati Rusdi memutuskan tetap berangkat sekolah.
“Anak saya semangat pagi tadi berangkat sekolah, ya meski enggak ngomong keadaannya gimana,” ujar Rusdi.
Meski begitu, Rusdiyanto tetap mendukung program MBG yang menurutnya membawa manfaat bagi siswa, asalkan bahan dan pengolahannya lebih diawasi. Ia berharap, agar pihak SPPG menyajikan menu MBG dengan muatan gizi yang terjamin. Sehingga, ia tidak perlu khawatir ketika anaknya mendapatkan fasilitas makan gratis.
Baca Juga: Kasus Dana Hibah Pariwisata di Sleman Seret Nama Harda Kiswaya, Begini Komentarnya!
“Siapa yang mau minta keracunan, kan enggak ada. Jangan yang aneh-aneh, ya menunya yang sehatlah pokoknya. Jadi kami orang tua gak was-was ketika anak kami makan di sekolah,” harapannya.
Kejadian yang sama juga terjadi di SMPN 1 Saptosari. Kepala Sekolah SMPN 1 Saptosari Emy Indarti mengatakan sekitar pukul 10.00, siswa di sekolah banyak yang diare, ada yang muntah, sakit perut.
“Akhirnya didata, kemudian dibawa ke puskesmas dan RSUD Saptosari," kata Emy saat ditemui di RSUD Saptosari. Dia menyebut ada lebih dari 200 siswanya yang mengeluh sakit.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Saptosari Dwi Susanto menegaskan penyebab pasti kejadian ini belum dapat dipastikan. Pihak puskesmas telah melaporkan kasus ini ke Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul.
“Terkait MBG atau bukan kami belum bisa memastikan. Tadi dipesan bahwa semua informasi terkait ini satu pintu ke Dinas Kesehatan,” tutur Dwi. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo