Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat agar tetap waspada, sebab saat ini masih memasuki musim transmigrasi ular.
Peristiwa tersebut bermula saat Hasto, warga setempat, hendak pulang ke rumah sekitar pukul 23.00.
Saat melintasi pekarangan, ia melihat ular besar melingkar di pohon pepaya. Mendapat laporan tersebut, tim Damkarmat Gunungkidul segera diterjunkan ke lokasi.
Kepala UPT Damkarmat Gunungkidul Handoko mengatakan, proses evakuasi berjalan lancar karena ular tersebut tidak berbisa.
“Petugas langsung mengevakuasi ular jenis sanca dengan panjang sekitar 2,5 meter. Setelah diamankan, ular kami tampung sementara di kantor Damkarmat untuk observasi,” jelas Handoko saat dikonfirmasi pada Senin, (27/10/2025).
Menurutnya, fenomena munculnya ular ke permukiman warga meningkat setiap kali terjadi peralihan musim dari kemarau ke penghujan.
Saat berlangsung musim pancaroba, kata dia, sarang ular di alam menjadi lembap karena hujan, sementara udara di luar cenderung dingin.
Kondisi ini mendorong ular mencari tempat yang lebih hangat, seperti rumah warga atau bangunan yang kering.
Fenomena ini dikenal sebagai musim transmigrasi ular, di mana ular-ular, khususnya jenis sanca, berpindah lokasi untuk mencari habitat yang lebih nyaman.
“Ini hal yang wajar terjadi di Gunungkidul. Karena itu, masyarakat kami imbau untuk lebih waspada, pastikan rumah tidak memiliki celah untuk akses masuk ular, terutama yang rumahnya berdekatan dengan kebun, sawah, atau area semak,” tambah Handoko.
Ia mengingatkan agar warga tidak mencoba menangkap ular sendiri jika menemukannya. Masyarakat dapat menghubungi nomor telepon 0274-391113 atau melalui WhatsApp di 08112657113 untuk mendapatkan bantuan.
“Segera hubungi Damkarmat Gunungkidul. Semua pelayanan evakuasi, termasuk penanganan ular, diberikan secara gratis,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik (Darlog) BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, mendukung langkah cepat Damkarmat dalam penanganan hewan berisiko tersebut.
Menurutnya, respons cepat dan edukasi kepada masyarakat menjadi kunci pencegahan insiden serupa. “Kesiapsiagaan dan kesadaran masyarakat sangat penting, terutama di masa peralihan musim seperti sekarang,” kata Edy. (bas)
Editor : Bahana.