Panen perdana Program Lumbung Mataraman di Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari, membawa angin segar bagi para petani. Berbekal Dana Keistimewaan (Danais) 2025 senilai Rp600 juta, warga setempat berhasil memanen bawang merah varietas Tajuk dan semangka jenis Inul dengan hasil melimpah. Ini menjadi langkah nyata dalam membangun kemandirian pangan berbasis potensi lokal.
Di atas lahan seluas 1,5 hektare, kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Sukatani berhasil membudidayakan bawang Tajuk dan semangka Inul secara optimal. Hasilnya, dari 1 kuintal bibit bawang merah, petani mampu memanen lebih dari 1 ton bawang dengan harga jual rata-rata Rp25.000/kg. Sementara itu, panen semangka dari 600 batang benih juga menghasilkan lebih dari 1 ton, yang dipasarkan seharga Rp5.000/kg.
Baca Juga: Rekomtek Belum Turun, Penambang Pasir Rakyat Masih Sungai Progo Terus Bertahan di Kantor BBWSSO
“Kami fokus pada hasil yang tidak hanya melimpah, tapi juga punya nilai jual. Ini hasil kerja bareng yang serius,” ungkap Lurah Piyaman, Tugino, saat panen raya, Selasa (14/10).
Menurut Tugino, panen raya ini bukan sekadar simbol keberhasilan, melainkan bukti bahwa sinergi antara pemerintah daerah, kelompok tani, dan koperasi lokal bisa menghasilkan dampak konkret. Program ini dikelola dengan hati-hati dan melibatkan 11 kelompok tani serta 4 kelompok wanita tani (KWT).
Danais tahap pertama sebesar Rp269,8 juta telah digunakan untuk penyiapan lahan, pembangunan sumur ladang, serta pengadaan bibit. Tahap kedua sebesar Rp330,1 juta saat ini masih dalam proses pelaksanaan. Semua hasil pertanian kemudian dipasarkan melalui Koperasi Merah Putih, yang turut mendampingi aspek hilirisasi produk.
Baca Juga: Empat Siswa SMAN 1 Jogja Absen Sekolah, Dua di Antaranya Masih Sakit Perut
Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menekankan bahwa pengelolaan pertanian harus efisien dan ekonomis.
“Bertani bukan hanya soal tradisi, tapi soal untung-rugi. Semua biaya harus dihitung, dari tenaga, pupuk, sampai transportasi. Kalau bisa nanam sendiri, kenapa beli? Kalau mau sejahtera, harus pintar kelola usaha tani,” pesannya.
Panen ini menjadi cermin bahwa petani Piyaman tidak hanya menanam untuk bertahan hidup, tapi juga berorientasi pada ekonomi dan kemandirian. Bawang Tajuk dan semangka Inul kini bukan sekadar komoditas musiman, tapi bagian dari strategi desa menuju ketahanan pangan dan kesejahteraan bersama. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo