Kawasan yang berlokasi di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) ini diproyeksikan menjadi ikon baru ekonomi pesisir sekaligus pintu gerbang wisata selatan Gunungkidul.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Gunungkidul Agung Danarta menyebut tawaran investasi rest area yang berada di atas lahan seluas 3,7 hektar itu dirancang sebagai kompleks terpadu yang menggabungkan SPBU, cottage, area UMKM, gazebo, taman hijau, dan fasilitas umum lainnya.
“Lokasi ini memiliki keunggulan geografis karena hanya berjarak 2,8 kilometer dari Pantai Parangtritis, serta menawarkan panorama langsung ke Samudra Hindia,” ujar Agung saat dihubungi pada Jumat, (10/10/2025).
Berdasarkan dokumen proyeksi investasi, kata Agung, total pembiayaan modal atau capital expenditure (CAPEX) untuk pembangunan proyek ini mencapai Rp 36,65 miliar.
Ditambah kebutuhan modal kerja sebesar Rp 12,88 miliar, sehingga total nilai investasi mencapai Rp 49,54 miliar.
Agung mengungkapkan anggaran tersebut dialokasikan untuk akuisisi dan sewa lahan, pembangunan SPBU, area ritel dua lantai untuk UMKM, enam unit cottage penginapan, gazebo, taman, serta fasilitas penunjang lainnya.
Agung menilai, investor yang akan menanamkan investasinya tidak akan rugi.
Pasalnya, menurut dia, berdasar kajian kelayakan menunjukkan proyek ini layak secara finansial dengan nilai Net Present Value (NPV) Rp 7,9 miliar, Internal Rate of Return (IRR) 13,71%, serta Benefit Cost Ratio 2,07.
Sementara periode pengembalian investasi atau payback period diperkirakan selama 6 tahun 3 bulan, lanjut dia, dengan tingkat profitabilitas mencapai 1,30.
“Dari hasil analisis kelayakan, seluruh indikator ekonomi menunjukkan nilai positif. Artinya proyek ini memiliki potensi keuntungan yang realistis dan aman bagi investor,” jelas Asar Janjang Riyanti, Sekretaris DPMPTSP Gunungkidul.
Ketika ditanya terkait pengelolaan limbah, Agung mengatakan pemerintah sudah menyiapkan sistem TPST dan TPS 3R di berbagai wilayah dengan dukungan lebih dari 230 bank sampah. Infrastruktur ini, menurutnya dapat menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan daya tarik investasi hijau di kawasan pesisir.
Terpisah, Sekertaris DPMPTSP Gunungkidul Asar Janjang Riyanti
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Gunungkidul Supriyanta mencatat, sepanjang tahun 2024 terdapat 3,28 juta kunjungan wisatawan, terdiri atas 3,28 juta wisatawan nusantara dan 3.978 wisatawan mancanegara.
Menurutnya jumlah kunjungan tertinggi mencapai 1,1 juta wisatawan yang menyasar area pantai Baron.
Dengan tren pertumbuhan kunjungan mencapai rata-rata 15% per tahun, baginya kebutuhan akan fasilitas peristirahatan dan akomodasi di jalur selatan semakin mendesak.
“Rest Area Kelok 23 akan menjadi simpul ekonomi baru di sepanjang jalur JJLS. Keberadaannya mendukung pariwisata berkelanjutan, meningkatkan kenyamanan wisatawan, dan menjadi ruang tumbuh bagi pelaku usaha lokal,” teran Supriyanta. (bas)
Editor : Bahana.