GUNUNGKIDUL - Proyek Agrowisata Pantai Baron senilai Rp 62,9 miliar disiapkan menjadi magnet baru investasi di selatan DIY.
Pemkab Gunungkidul menargetkan kawasan ini menjadi destinasi wisata hijau yang memadukan rekreasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Gunungkidul Agung Danarta mengatakan, proyek tersebut kini disiapkan untuk menarik minat investor.
Melalui arah kebijakan pengembangan ekonomi daerah yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan.
“Ini kesiapan Gunungkidul dalam membuka ruang investasi dengan kepastian hukum dan kepastian usaha. Tiga ini tengah digarap serius,” terangnya saat dihubungi, Selasa (7/10/2025).
Proyek Agrowisata Pantai Baron dibangun di atas lahan seluas 14,2 hektare, mengusung konsep edu-agrowisata dengan integrasi taman bunga Celosia, taman air, wahana rekreasi keluarga, kafe, serta ruang kuliner hasil laut.
Terkait besaran investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 62,9 miliar dengan proyeksi keuntungan internal rate of return (IRR) yang kuat mencapai 44,64 persen, net present value (NPV) sebesar Rp 110 miliar, dan periode pengembalian investasi sekitar empat tahun.
“Tak hanya menyiapkan lokasi, kami juga menghadirkan kelayakan studi, desain teknis, dan dukungan infrastruktur,” tegasnya.
Terpisah, Sekertaris Dinas DPMPTSP Gunungkidul Asar Janjang Riyanti menjelaskan, pengembangan kawasan ini ke depannya akan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi berbasis wisata hijau dan masyarakat lokal.
Pantai Baron, kata dia, akan menjadi etalase wisata baru yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan memberdayakan.
Sebab, jika investasi ini berjalan wisatawan diklaim akan disuguhkan pengalaman belajar menanam, menikmati taman bunga, hingga mengenal lebih dekat kehidupan nelayan dan budaya pesisir.
“Kami telah menyiapkan detail engineering design senilai Rp 350 juta untuk penataan kawasan. Infrastruktur pendukung seperti listrik, air bersih, dan akses jalan melalui jalur jalan lintas selatan (JJLS) telah tersedia, menjadikan proyek ini siap dikembangkan oleh investor swasta maupun mitra BUMD,” terangnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita