GUNUNGKIDUL - Menyambut datangnya musim hujan pada Oktober ini, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mulai menyiapkan dukungan untuk petani. Bantuan berupa benih hingga pupuk bersubsidi siap disalurkan agar masa tanam pertama di awal penghujan berjalan lancar.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi menyebut, fenomena hujan yang sudah turun sejak akhir September membuat petani mulai mengolah lahan. Berdasarkan prediksi BMKG, musim hujan di wilayah Gunungkidul diperkirakan dimulai bulan ini.
Luasan lahan tadah hujan yang siap ditanami mencapai sekitar 21.000 hektare. Tersebar di Rongkop, Tepus, Girisubo, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, hingga Gedangsari. “Kami pantau, petani di kawasan pesisir pun sudah menyiapkan lahan,” jelas Rismiyadi saat dihubungi Minggu (5/10).
Dalam mendukung produktivitas pertanian, pemerintah daerah menyalurkan benih jagung hibrida sebanyak 75 ton. Jumlah itu mampu mencukupi kebutuhan tanam di lahan seluas 5.008 hektare. Dengan kebutuhan rata-rata 15 kilogram benih per hektare.
Selain itu, alokasi pupuk bersubsidi juga tersedia dalam jumlah besar. Tahun ini Gunungkidul mendapat jatah pupuk urea 17.317 ton. Namun hingga akhir Agustus, baru terserap 3.227,4 ton. Untuk pupuk NPK atau phonska, dari alokasi 13.251 ton baru terserap 3.582,3 ton atau sekitar 27 persen.
“Stok pupuk masih cukup dan petani bisa menebus sesuai kebutuhan dengan KTP elektronik,” tambahnya.
Rismiyadi menilai, fenomena kemarau basah tahun ini menjadi keuntungan tersendiri bagi petani. Meski masih dalam periode kemarau, intensitas hujan yang turun membuat lahan tetap bisa digarap. “Dengan kondisi ini, lahan tetap produktif dan peluang peningkatan hasil panen semakin terbuka,” katanya.
Petani asal Giriharjo, Panggang Darmono mengaku, sudah menyiapkan lahannya untuk ditanami padi. Ia memanfaatkan datangnya hujan untuk segera menebar benih dalam waktu dekat. “Setelah itu baru tumpangsari. Padi ini untuk kebutuhan makan keluarga, bukan untuk dijual,” ujar Darmono.
Namun, dia mengeluhkan adanya gangguan dari satwa liar, terutama monyet ekor panjang. Menurutnya, satu gerombolan yang bisa mencapai 50 ekor sering melintas di area persawahan sehingga menyebabkan tanaman padi roboh. “Kalau terus menerus dilewati, sawah bisa rusak dan gagal panen,” sebutnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita