GUNUNGKIDUL - Kontes Ternak Kabupaten Gunungkidul Piala Keistimewaan 2025 yang digelar di Pasar Hewan Siyono Harjo menjadi panggung besar bagi para peternak sekaligus momentum meningkatkan kesadaran akan kesehatan hewan. Tidak hanya adu kualitas ternak, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul menyiapkan 840 dosis vaksin rabies untuk hewan kesayangan seperti anjing dan kucing.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul Wibawanti Wulandari menegaskan bahwa vaksinasi ini menjadi bagian penting dari rangkaian acara. “Kami ingin peringatan Hari Rabies Sedunia yang jatuh bersamaan dengan kegiatan ini benar-benar bermakna. Vaksinasi rabies adalah cara paling efektif untuk melindungi hewan dan masyarakat dari ancaman penyakit,” ungkapnya kepada wartawan Minggu (28/9).
Layanan vaksinasi tersedia tidak hanya di lokasi kontes, tetapi juga tersebar di berbagai UPT Puskeswan Gunungkidul. Langkah ini diambil agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan sekaligus memperluas jangkauan program pencegahan rabies.
Selain vaksinasi, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga menyerahkan kompensasi kepada lima peternak yang kehilangan ternaknya akibat penyakit menular. Bantuan ini menurut Wibawanti diberikan berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 10 Tahun 2025, dengan nilai antara Rp1,5 juta hingga Rp3,5 juta, sebagai bentuk perlindungan pemerintah terhadap kerugian peternak.
“Ya kontes hewan ternak, sudah jelas hewan yang sehat dan bugar datang ke sini, makanya untuk terus meningkatkan kesadaran peternak akan kesehatan hewan kami lakukan vaksinasi dan bantuan kompensasi,” tambah Wibawanti.
Menurutnya, kontes ini lebih dari sekadar lomba, melainkan juga menegaskan status Gunungkidul sebagai sentra pembibitan sapi PO. Sejak 2015, kata Wibawanti , wilayah Playen dan Wonosari ditetapkan sebagai kawasan sumber bibit.
Pada 2018, sapi PO bahkan dinobatkan sebagai produk unggulan daerah dengan julukan Si Putih Mutiara. Simbol mutu ternak Gunungkidul yang tiada tara.
Wibawanti menambahkan bahwa pelaksanaan kontes ternak dan seluruh rangkaiannya diselaraskan dengan filosofi keistimewaan DIY, memayu hayuning bawono. Bermakna menjaga keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup, serta merawat keharmonisan dengan alam.
“Kontes ini bukan sekadar perlombaan, tetapi bagian dari cara kami membawa roh keistimewaan dalam kehidupan sehari-hari. Regenerasi ternak, khususnya sapi PO, harus terus dijaga agar Gunungkidul benar-benar menjadi gudang ternak berkualitas,” tegasnya.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyebut, kontes ternak tahun ini sepenuhnya dibiayai dari dana keistimewaan. Menurutnya, kontes bukan hanya arena kompetisi, melainkan sarana edukasi, silaturahmi, dan motivasi bagi para peternak.
“Gunungkidul punya potensi besar di sektor peternakan. Melalui kontes ini, peternak tidak hanya bisa menampilkan ternak terbaik, tapi juga belajar meningkatkan kualitas genetik, pola pemeliharaan, dan biosekuriti,” pesan Endah. (bas)
Editor : Sevtia Eka Novarita