Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Uji Lab BLKK Yogyakarta Ungkap Penyebab Keracunan MBG di MTsN Wonosari, Nasi hingga Sayur Terbukti Tercemar Bakteri: Begini Penjelasannya!

Yusuf Bastiar • Sabtu, 27 September 2025 | 02:05 WIB
RAPI: Siswa SMPN 3 Wates menumpuk ompreng MBG yang telah ludes isinya. 
RAPI: Siswa SMPN 3 Wates menumpuk ompreng MBG yang telah ludes isinya. 

GUNUNGKIDUL - Kasus dugaan keracunan program makan bergizi gratis (MBG) yang menimpa empat siswa MTs Negeri Wonosari memasuki babak baru setelah hasil uji laboratorium keluar.

Pemeriksaan Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Yogyakarta menemukan sejumlah bakteri berbahaya pada sampel makanan yang dikonsumsi siswa.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Ismono menyampaikan, dokumen akhir hasil uji laboratorium mengonfirmasi adanya kontaminasi bakteri pada berbagai jenis makanan yang disajikan.

“Dari hasil uji laboratorium ditemukan bakteri klebsiella pneumoniae,” tegas Ismono saat dihubungi wartawan Jumat sore (26/9/2025).

Bakteri klebsiella pneumoniae terdeteksi pada nasi, telur saus mentega, brokoli, wortel rebus, hingga semangka.

Secara medis, bakteri ini dapat menimbulkan gejala demam, pusing, hingga mual. Kontaminasi biasanya berasal dari bahan makanan yang tidak dicuci bersih atau air minum yang terkontaminasi.

Selain itu, potongan semangka dan muntahan siswa juga mengandung staphylococcus aureus, bakteri yang kerap menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, hingga keletihan.

“Kontaminasi ini bisa muncul akibat makanan yang terpapar tangan atau alat yang tidak higienis,” ujarnya.

Tak hanya itu, uji laboratorium juga menemukan jamur (kapang/khamir) pada muntahan siswa. Pertumbuhan jamur ini diduga dipicu penyimpanan makanan yang tidak tepat.

Sementara dari sampel makanan di dapur penyedia (SPPG), teridentifikasi bacillus cereus pada nasi dan tempe krispi. Mikroorganisme ini berpotensi menimbulkan mual, muntah, dan diare bila makanan tidak diolah atau disimpan sesuai standar.

Lebih mengkhawatirkan, pada sampel nasi juga ditemukan escherichia coli (E. coli) patogen. Bakteri ini dikenal sebagai penyebab gangguan pencernaan serius seperti diare, demam, hingga kram perut.

“Temuan ini menunjukkan ada kelemahan dalam rantai pengolahan, mulai dari pemilihan bahan, kebersihan penyimpanan, hingga distribusi makanan. Semua harus sesuai standar agar aman dikonsumsi,” kata Ismono.

Dengan temuan tersebut, Dinas Kesehatan Gunungkidul memberikan sejumlah rekomendasi.

Antara lain memastikan bahan makanan sesuai standar operasional prosedur (SOP), menjaga kebersihan lingkungan dapur, mencuci tangan pakai sabun sebelum menangani makanan, serta memastikan peralatan disimpan dengan benar.

Pengendalian vektor seperti lalat dan serangga juga harus diperketat untuk mencegah kontaminasi silang.

“Kami menekankan agar penyelenggara program MBG lebih disiplin dalam menerapkan SOP. Kejadian ini menjadi peringatan penting agar setiap tahap, dari dapur hingga meja makan siswa, benar-benar aman,” pesannya.

Pihaknya juga akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi siswa yang terdampak dan memperketat pengawasan di lapangan.

Diharapkan kasus serupa tidak terulang dan program MBG tetap menjadi upaya pemerintah untuk meningkatkan gizi pelajar tanpa mengorbankan faktor keamanan pangan.

Sebelumnya, insiden tersebut terjadi pada awal September, tepatnya pada Rabu (3/9/2025). Empat siswa harus dilarikan ke IGD RSUD Wonosari setelah mengalami mual, pusing, dan muntah usai menyantap hidangan dari program MBG.

Selain itu, seorang siswa lain mendapat perawatan di unit kesehatan sekolah (UKS). Untungnya, berkat penanganan cepat, para siswa langsung diperbolehkan pulang pada sore harinya.

Dinkes segera bergerak melakukan investigasi begitu laporan diterima. “Kami langsung menurunkan tim untuk mengambil sampel makanan sisa dan muntahan siswa. Sampel kemudian dikirim ke BLKK Jogjakarta untuk diuji,” tambahnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#MTsN Wonosari #keracunan mbg #Mbg #bakteri #program mbg #keracunan #Makan Bergizi Gratis #Pemkot Jogja