GUNINGKIDUL - Pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi wisata di Gunungkidul baru mencapai Rp 19,8 miliar. Jumlah ini bartu terealisasi 59 persen dari target 2025 yakni sebesar Rp 33,5 miliar.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Gunungkidul Supriyanta mengatakan, target PAD tahun ini mengalami kenaikan. Dalam pembahasan APBD Perubahan 2025, target awal sebesar Rp 32 miliar. Namun dinaikkan Rp 1,5 miliar sehingga menjadi Rp 33,5 miliar.
“Kenaikan target ini menjadi tantangan tersendiri. Jujur memang berat,” kata Supriyanta saat dihubungi Minggu (21/9).
Dari sisi kunjungan, hingga pertengahan September jumlah wisatawan yang datang tercatat 1,9 juta orang. Padahal target kunjungan tahun ini dipatok 3,1 juta wisatawan. “Artinya masih ada selisih yang cukup besar untuk mengejar target kunjungan dan PAD hingga Desember nanti,” keluhnya.
Menurut Supriyanta, tantangan terbesar adalah tidak adanya momen libur panjang hingga akhir tahun. Kecuali pada perayaan Natal dan tahun baru.
Kondisi ini akan diperparah dengan peralihan musim. “Destinasi wisata Gunungkidul masih didominasi wisata alam sehingga sangat rentan dengan cuaca ekstrem,” sebutnya.
Dia juga menyinggung faktor perekonomian masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Serta situasi nasional yang dinilai belum kondusif.
Menurutnya, calon wisatawan cenderung lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dibanding berwisata. “Kami tetap melakukan berbagai upaya, salah satunya promosi lebih masif dan menggelar sejumlah even menarik minat wisatawan,” tambah Supriyanta.
Anggota Komisi B DPRD Gunungkidul Ery Agustin Sudiyanti menilai, PAD sektor wisata masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Menurutnya, salah satu langkah strategis adalah menekan potensi kebocoran pendapatan.
Dia menyarankan, agar pemerintah daerah berani membuat terobosan. Misalnya dengan menggandeng pihak ketiga dalam penarikan retribusi parkir. “Kalau kebocoran bisa ditekan, tentu capaian PAD bisa lebih optimal,” kata Ery saat ditemui di ruangan Fraksi Golkar DPRD Gunungkidul Jumat (19/9). (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita