Di tengah keramaian itu, aroma nasi kucing, sate-satean, dan gorengan hangat menyeruak dari sebuah angkringan sederhana di halaman venue Gor Siyono Kabupaten Gunungkidul.
Di balik gerobak kayu dan tungku arang Eswadi (50) tampak sibuk melayani pembeli. Wajahnya sumringah. Ia tidak menampik bahwa Porda DIJ XVII 2025 menjadi berkah tersendiri baginya.
“Kalau hari biasa, pendapatan paling 200 ribu sampai 250 ribu. Tapi sejak ada Porda ini bisa sampai lima kali lipat. Dari pagi baru buka saja sudah ramai pembeli. Nyaris tidak ada jeda sepi,” ujarnya sembari menambahkan arang ke tungku pada Selasa, (16/9/2025).
Eswadi mulai membuka angkringan sejak pukul 09.00. Jam tutup pun ia sesuaikan dengan jadwal pertandingan.
Jika laga berlangsung hingga malam, ia pun tetap bertahan melayani penonton, atlet, dan ofisial yang mencari makanan hangat setelah pertandingan.
“Kalau sore sudah selesai, biasanya tetap saya lanjutkan buka sampai malam. Karena ada pembeli lokal, juga warga Wonosari yang sengaja datang,” katanya.
Menurut Eswadi hajatan olahraga tingkat provinsi ini tidak hanya berdampak pada dunia olahraga, tetapi juga pada roda ekonomi warga kecil.
Ia merasakan langsung bagaimana keramaian event berimbas pada omzet dagangannya.
“Event Porda ini sangat bermanfaat. Tidak hanya untuk prestasi atlet, tapi juga untuk pedagang kecil seperti saya. Harapan saya, pemerintah kabupaten maupun provinsi bisa lebih sering menggelar event besar di Gunungkidul. Efeknya benar-benar terasa,” tuturnya.
Eswadi menyadari, keramaian penonton bukan hanya datang dari warga lokal. Banyak pula tamu dari luar daerah yang turut menyaksikan pertandingan basket dan drumband.
“Kalau event provinsi, yang datang bukan hanya orang Gunungkidul. Ada juga dari Sleman, Bantul, bahkan luar kota. Itu membuat jualan saya hampir tidak pernah sepi,” ujarnya.
Namun, berkah yang dirasakan Eswadi tidak sepenuhnya dirasakan pedagang lain di lokasi berbeda.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Alun-alun Wonosari, justru merasakan dampak yang relatif kecil.
Alun-alun menjadi arena bagi cabang olahraga woodball dan sepatu roda. Sayangnya, dua cabor tersebut tidak mendatangkan keramaian setara cabang olahraga basket atau voli.
“Woodball kan masih baru, jadi penontonnya tidak banyak. Belum dikenal publik seperti sepak bola atau basket yang sudah akrab dengan masyarakat sini,” kata Among.
Di cabang sepatu roda, menurut Among, sebenarnya jumlah penonton cukup ramai. Namun, jalur pertandingan yang disterilkan membuat pedagang tidak bisa mendekat.
Akibatnya, penonton kesulitan menjangkau pedagang, sementara pedagang pun tidak bisa menawarkan dagangan lebih dekat.
“Kalau boleh masuk, pasti laris. Tapi karena jalurnya tertutup, pedagang tetap tidak laku. Jadi ya dampaknya kecil,” imbuhnya.
Kondisi ini memperlihatkan kontras antara pedagang yang berjualan di venue populer dan venue baru.
Di GOR Siyono, penonton berbondong-bondong mencari makanan setelah menonton pertandingan.
Sementara di Alun-alun, meski ada keramaian, akses terbatas membuat potensi ekonomi tidak sepenuhnya terserap.
Meski demikian, baik Eswadi maupun Among sama-sama sepakat bahwa event besar seperti Porda penting untuk digelar rutin di Gunungkidul.
Selain mendukung prestasi olahraga, juga bisa menggerakkan ekonomi rakyat kecil.
“Kalau bisa jangan sekali-sekali, tapi rutin. Karena pedagang kecil seperti kami ini sangat terbantu,” tutup Eswadi. (bas)
Editor : Bahana.