Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wayang Uwuh Ramaikan Festival Bedhidhig 2025: Kreativitas Wayangan Gen Z bawa Isu Lingkungan

Yusuf Bastiar • Minggu, 14 September 2025 | 21:32 WIB

Wayang Uwuh membawakan ide cerita bertajuk Obar-abir sebagai pementasan wayang kontemporer yang tidak meninggalkan sedikitpun tradisi wayang konvensional.
Wayang Uwuh membawakan ide cerita bertajuk Obar-abir sebagai pementasan wayang kontemporer yang tidak meninggalkan sedikitpun tradisi wayang konvensional.
GUNUNGKIDUL - Suasana Dusun Siyono B, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, dipenuhi gelak tawa dan sorak-sorai penonton pada Minggu malam (13/9).

Wayang Uwuh tampil unik karena terbuat dari bahan daur ulang bekas galon kemasan. Wujudnya sederhana, namun penuh makna.

Pertunjukan ini bukan hanya hiburan, melainkan pesan tentang kepedulian lingkungan.

Sepanjang pementasan, dalang dan penonton kerap bersahutan, menambah suasana cair dan penuh tawa.

Dalang muda asal Kalurahan Petir Gunungkidul Bambang Wijonarko membawakan lakon Wayang Uwuh dengan gaya segar dan sarat pesan lingkungan.

Ia menyisipkan isu-isu nyata yang dialami masyarakat, mulai dari banjir akibat sampah di luweng atau goa vertikal, anjloknya harga gaplek karena cuaca, hingga dampak pestisida kimia yang menggerus ekosistem lokal.

“Pupuk kimia juga membuat hewan khas Gunungkidul, seperti walang, makin jarang ditemui. Dari situ lah ide cerita ini lahir,” ungkap Bambang saat ditemui seusai pementasan pada Sabtu malam, (13/9/2025).

Menurutnya Wayang Uwuh lahir dari keprihatinan akan kondisi lingkungan sekaligus menjadi simbol kreativitas generasi muda.

Dengan bahan sederhana dari sampah galon kemasan plastik, anak-anak muda Siyono berhasil menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik.

Festival Bedhidhig 2025 menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, di mana kesenian tradisi kembali hidup dengan semangat baru.

Gelak tawa penonton malam itu seakan menjadi bukti bahwa pesan moral bisa sampai lewat seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Wayang ini bukan hanya tentang melestarikan budaya, tapi juga mengajak orang peduli lingkungan. Semoga dari sini anak muda makin cinta seni sekaligus menjaga alam,” pungkas Bambang.

Ia menilai wayang adalah media efektif untuk menyampaikan ajakan perubahan. Peran inilah yang dimainkan Bambang, baginya jika pembawaan cerita oleh dalang disajikan dengan serius tanpa canda, penonton akan cepat merasa bosan.

Sehingga, teknik humor dan satir dibawakan Bambang dalam pedalangan agar pesan dan cerita bisa tersampaikan.

Tak hanya itu, kata Bambang, teknik ini juga akan membuat penonton Engan beranjak dari tempat duduknya sampai pementasan wayang rampung.

Warga dari berbagai kalangan, mulai dari simbah-simbah hingga anak-anak, berbaur di pusat dusun untuk menyaksikan pementasan Wayang Uwuh.

Tak hanya masyarakat lokal, penonton juga berdatangan dari Sleman, Kulon Progo, hingga Wonogiri.

Pementasan Wayang Uwuh di Festival Bedhidhig melibatkan 13 anak muda dari Dusun Siyono.

Mereka membentuk tim lengkap, dari dalang hingga karawitan, yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP dan SMA.

Salah satunya adalah Wahyu Setiawan, siswa kelas XI SMK Muhammadiyah Rongkop yang bertugas sebagai penabuh kendang.

“Kami semua anak muda dusun yang cinta budaya dan pewayangan. Latihan memang terbatas, hanya empat kali sepulang sekolah, satu sampai dua jam saja. Tapi kami berusaha maksimal,” katanya.

Wahyu bercerita bahwa dirinya sudah belajar seni sejak kelas 2 SD. Awalnya ia terbiasa menabuh untuk kesenian jathilan.

Namun mengiringi wayang memerlukan keterampilan berbeda.

“Tabuhan jathilan dan wayang tidak sama. Ritmenya beda, perlu penyesuaian. Ini tantangan sekaligus pengalaman berharga bagi kami,” tambahnya. (bas)

Editor : Bahana.
#wayang #Gen Z