Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Keberadaan Reog Pranama Disebut Lebih Lama dari Jathilan, Merupakan Warisan Seni dari Kalurahan Wonosari, Gunungkidul

Yusuf Bastiar • Kamis, 11 September 2025 | 02:30 WIB

 

NGURI-URI BUDAYA: Masyarakat saat menampilkan Reog Pranama sebagai kesenian tradisional yang lahir dan tumbuh di depan Kantor Kalurahan Wonosari Rabu (9/10).
NGURI-URI BUDAYA: Masyarakat saat menampilkan Reog Pranama sebagai kesenian tradisional yang lahir dan tumbuh di depan Kantor Kalurahan Wonosari Rabu (9/10).

GUNUNGKIDUL - Dentuman gong dan tabuhan kendang terdengar menggema di pelataran Kantor Kalurahan Wonosari, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul Rabu (10/9) sore. Ratusan warga tampak duduk melingkar, menikmati penampilan Reog Pranama. Konon, kesenian rakyat asli Kalurahan Wonosari ini lebih tua dibanding jathilan yang kini marak di Gunungkidul.

Sesepuh Kalurahan Wonosari Toto Parwoto, 76, menuturkan, Reog Pranama telah ada sejak dia masih kecil. Sekitar medio 1940-an. Bahkan, kata Mbah Toto sapaannya, kesenian ini telah mendapat mendapat pengakuan langsung dari Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bahwa Reog Pranama lahir dan tumbuh di Kalurahan Wonosari.

 Baca Juga: Wujudkan Jajan Aman, Tiga Sekolah di Kota Jogja Jadi Percontohan Pangan Sehat  

Menurutnya, Reog Pranama menjadi satu-satunya hiburan rakyat kala itu. Filosofi dari pertunjukan ini adalah menggambarkan perjuangan. Baik melawan diri sendiri maupun mempertahankan nilai-nilai kebaikan. “Dalam pementasan ada tembang-tembang yang memberikan tuntunan hidup, meninggalkan kebatilan, hidup rukun dengan tetangga,” beber Mbah Toto. 

Tak hanya sekadar hiburan, reog ini juga kerap ditampilkan dalam acara sakral. Seperti rasulan, bersih sumber mata air, maupun ruwatan makam. Nilai religius dan budaya berpadu dalam setiap gerak tarian serta lantunan tembang yang menyertainya.

 Baca Juga: Krisis Politik Terjadi di Nepal Picu Kerusuhan: Massa Bakar Rumah Eks PM Nepal, Istrinya Jadi Korban Jiwa

Di tengah maraknya kesenian baru, lanjutnya, Reog Pranama terus dijaga keberlangsungannya. Generasi muda dilibatkan dalam latihan, agar tidak hanya dimengerti para sepuh.

Bagi masyarakat Kalurahan Wonosari, Reog Pranama bukan sekadar tontonan. Melainkan identitas budaya yang lahir dari rakyat, tumbuh bersama rakyat, dan terus dipersembahkan untuk rakyat.

 Baca Juga: Bikin Geger Dunia Maya! Yudo Sadewa, Putra Menkeu Baru Purbaya Viral Usai Nyinyir dan Sindir Sri Mulyani Agen CIA hingga Video Ciri Orang Miskin

“Kami ingin kesenian ini tetap hidup, tidak hanya tinggal cerita. Setiap kali ada warga mengundang, kami siap tampil, tidak pernah mematok bayaran,” lontarnya.

Sementara itu, Wiranti, warga Baleharjo yang kebetulan melintas, mengaku senang bisa menyaksikan pertunjukan langka ini. “Kalau jathilan sering ada, tapi Reog Pranama jarang sekali tampil,” tuturnya. (bas/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kesenian #jathilan #Reog Pranama #wonosari #Kapanewon Wonosari #Gunungkidul #Hiburan rakyat #Kalurahan Wonosari #sakral #Sri Sultan Hamengku Buwono X #reog