Sanggar Oyod Ringin Lahir untuk Mengembalikan Kepercayaan Diri Warga Padukuhan Keblak, Ngeposari, Semanu
Yusuf Bastiar• Sabtu, 30 Agustus 2025 | 05:00 WIB
Teater Sanggar Ori sedang mementaskan teater bertajuk Geseh di hadapan masyarakat Padukuhan Ngeblak pada Minggu, 16 Februari 2025.
GUNUNGKIDUL - Di Padukuhan Keblak, Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu, suara gamelan masih bergema. Bukan sekadar tabuhan instrumen, melainkan gema keyakinan bahwa identitas dusun layak dirayakan. Dari sanalah, Sanggar Oyod Ringin (Sanggar Ori) lahir menjadi sebuah ruang kebudayaan. Kini usianya menginjak 12 tahun.
Pemuda asli Keblak sekaligus perwakilan Sanggar Ori Jevi Adhi Nugraha menuturkan, Sanggar Ori berdiri pada 2013. Alasannya sederhana. Mengembalikan kepercayaan diri orang-orang dusun. Menurutnya, ukuran kemajuan tidak harus datang dari ukuran kota. Melainkan dari kebudayaan lokal yang tumbuh di tanah sendiri.
“Di Jogja, Gunungkidul selalu dibayang-bayangi gemerlap kota. Di tingkat nasional, kami dibayang-bayangi Jakarta. Promosi tentang kemajuan kota itu membuat orang dusun seperti kami minder,” ujar Jevi saat ditemui di Sanggar Ori Jumat (29/8).
Awalnya, kegiatan seni dilakukan di serambi masjid padukuhan. Bersama sekitar 80 anak muda. Mereka memainkan gamelan, menulis naskah, hingga mementaskan teater dalam bahasa Jawa. Satu di antaranya sandiwara berjudul Geseh. Menggambarkan keseharian warga dusun dengan segala keunikan dan kesahajaannya. Baginya, kemajuan kota hanyalah mitos. “Kebudayaan dusun itulah identitas kami, itulah kemajuan kami,” tegasnya.
Tak hanya teater, Sanggar Ori juga memproduksi puisi, karya sastra, seni rupa, film pendek, hingga dokumenter. Grup musik dan komunitas seni yang lahir dari sanggar ini selalu mengangkat cerita lokal dengan bahasa Jawa sebagai medium utama. Dampaknya, kata Jevi, perlahan tumbuh kepercayaan diri generasi muda di dusun. Anak-anak kini tak segan memamerkan keseharian lewat media sosial dari dapur pawon berasap kayu bakar, hingga aktivitas bertani di ladang.
“Semua karya kami bicara tentang lokalitas. Kami tidak malu sedikit pun dengan kebudayaan kami. Justru kami bangga dan kami rayakan,” ungkap Jevi.
Lebih dari sekadar panggung seni, Sanggar Ori menjadi ruang belajar lintas generasi. Anak-anak kecil dirangkul, diajak berproses bersama, dan tumbuh dalam kesadaran bahwa mereka tak harus menjadi kota untuk disebut maju. Di tengah arus globalisasi dan derasnya promosi modernitas kota, Sanggar Ori berdiri sebagai pengingat. Kebudayaan lokal bukanlah hal yang usang. Justru di sanalah akar identitas orang-orang Ngeblak bertumbuh dan terus dirayakan.
“Kami saling sokong, saling belajar. Inilah cara kami meruwat identitas sebagai orang dusun,” kata Jevi. (bas)