Program ini mulai berjalan sejak sebulan lalu. Dengan melibatkan ibu-ibu PKK, kelompok wanita tani (KWT), dan pemuda.
Rifki Ariyansyah, penggerak pemuda Ketonggo mengatakan, ide mendirikan bank sampah berawal dari keresahan bersama terkait menumpuknya sampah plastik, botol, dan kardus.
Warga kemudian bersepakat mengelola sampah agar tidak mencemari lingkungan.
“Kami kumpulkan sampah plastik, botol, dan kardus dari setiap rumah. Pengambilan dilakukan seminggu sekali agar warga tidak bingung membuangnya.
Sampah yang bernilai jual kami pisahkan dan dijual melalui mekanisme akuntabel,” jelas Rifki, Rabu (27/8/2025).
Skema pembagian keuntungan dibuat transparan. Dari hasil penjualan, 50 persen untuk pemilik sampah dan 50 persen masuk ke kas bank sampah. Dana kas ini rencananya akan digunakan untuk kegiatan sosial.
“Saat ini ada sekitar 150 KK (kepala keluarga) yang terlibat. Selain menjaga kebersihan, ini bisa memberi tambahan penghasilan bagi warga, meski tidak besar,” tambahnya.
Tidak hanya mengandalkan penjualan bahan bekas, ibu-ibu KWT Ketonggo mengolah sampah plastik kemasan menjadi kerajinan tangan. Produk yang dihasilkan berupa tas, dompet, dan hiasan rumah.
Ketua KWT Ketonggo Sudarsih menuturkan, produk kreatif ini sudah mulai dipasarkan. Meski, peminatnya masih terbatas di tingkat lokal. Sudarsih berharap upaya ini tidak hanya mengurangi sampah. Tapi juga meningkatkan ekonomi keluarga.
“Harga bervariasi, dompet kecil sekitar 20.000, sedangkan tas besar bisa 50.000. Produk ini sudah kami pamerkan di kegiatan UMKM kelurahan dan kapanewon, bahkan beberapa sudah terjual,” ujarnya.
Baca Juga: Mencegah Penghilangan Alat Bukti, Giliran BUKP Galur Digeledah Kejari Kulon Progo
Sudarsih menyebut, program Bank Sampah Migunani menjadi contoh nyata kolaborasi warga dalam mengatasi masalah lingkungan sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi.
Dengan konsep gotong royong, kata Sudarsih, masyarakat Ketonggo bertekad menjadikan gerakan ini sebagai inspirasi pengelolaan sampah berkelanjutan di Gunungkidul.
“Kami optimistis karya dari ibu-ibu dan pemuda ini bisa menembus pasar yang lebih luas, bahkan jadi ikon ekonomi kreatif pedukuhan,” tambahnya. (bas/zam)
Editor : Herpri Kartun