Di balik riak laut selatan yang terkenal ganas itu, berdiri gagah Sang Saka Merah Putih, berkibar di sebuah tiang yang terapung di tengah laut, jaraknya sekitar 150 meter dari bibir pantai.
Momen istimewa inu bukan hanya karena bendera dikibarkan di tengah laut, melainkan siapa sosok di balik pengibaran itu.
Ialah Susmiati, satu-satunya perempuan anggota Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Baron yang bertugas menjadi pembawa bendera dalam upacara HUT ke 80 Republik Indonesia di Pantai Baron.
“Tidak seperti petugas lain, saya harus berenang membawa bendera menuju tiang yang sudah dipasang sebelumnya. Ombaknya cukup bersahabat meski angin kencang. Saya terbiasa menghadapi situasi seperti ini,” ujar Susmiati dengan senyum bangga usai upacara.
Terus berjuang berenang menembus arus laut, Susmiati mendekati tiang bendera yang terombang-ambing oleh gelombang.
Di sanalah ia memastikan Sang Merah Putih terikat rapi. Begitu lagu Indonesia Raya dikumandangkan, kata Susmiati, bendera perlahan ditarik hingga berkibar gagah di tengah samudera.
Momen itu menghadirkan rasa haru baginya. “Sudah tiga kali saya dipercaya menjadi pembawa bendera di tengah laut. Tapi rasa bangga itu selalu sama, seolah baru pertama kali,” ungkapnya.
Namun perjalanan Susmiati tak sepenuhnya mulus. Saat proses pemasangan bendera, telapak kaki sebelah kiri terkena bambu hingga berdarah.
Meskipun tidak begitu besar, rasa perih bertambah karena terkena air laut. Tapi semua ia abaikan demi tegaknya Merah Putih.
“Luka kecil itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kebanggaan melihat bendera berkibar. Itu harga yang pantas saya bayar untuk Indonesia,” katanya tegas.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Baron, Marjono, menegaskan seluruh prosesi sudah disiapkan dengan matang, termasuk keamanan.
Seluruh peserta yang berenang dibekali pelampung, dan tujuh kapal disiagakan mengelilingi lokasi upacara.
“Alhamdulillah semua berjalan lancar, upacara berlangsung khidmat. Bendera berhasil dikibarkan di tengah laut Pantai Baron,” jelasnya. (bas)
Editor : Bahana.