Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sepinya Pasar Walang Goreng di Baron, Pedagang Bertahan Hanya di Sabtu-Minggu Meski Untung Tipis

Yusuf Bastiar • Senin, 18 Agustus 2025 | 02:54 WIB
Wasido sedang menunggu para wisatawan mampir ke lapak walang goreng miliknya yang terletak di dalam kawasan wisata Baron pada Minggu (17/8).
Wasido sedang menunggu para wisatawan mampir ke lapak walang goreng miliknya yang terletak di dalam kawasan wisata Baron pada Minggu (17/8).
 
 
GUNUNGKIDUL - Camilan khas Gunungkidul, walang goreng yang biasanya diburu wisatawan kini makin sulit terjual di kawasan wisata Pantai Baron. Dua pedagang asal Gunungkidul mengaku penjualan serangga goreng tersebut semakin sepi, terutama di luar musim liburan.
 
Wasido (58), pedagang walang goreng yang sudah belasan tahun berjualan di dalam kawasan wisata Baron mengungkapkan bahwa saat ini ia hanya berani membuka lapak pada akhir pekan. Di luar Sabtu dan Minggu, ia memilih mencari pekerjaan sampingan karena khawatir dagangannya tidak laku.
 
“Kalau bukan musim liburan atau Lebaran, jualan walang goreng ini sulit banget. Paling buka dua hari saja, Sabtu sama Minggu,” ujar Wasido saat ditemui di lapaknya pada Minggu, (17/8/2025).
Baca Juga: Bagikan Kain Gratis untuk Seragam 12 Ribu Siswa Baru, DPRD Bantul Siap Anggarkan Rp 5 M di APBD 2026
 
Ia menjual satu wadah walang goreng seharga 30 ribu. Namun, menurutnya, angka penjualan hanya naik signifikan saat musim libur panjang, bisa mencapai 20 hingga 30 wadah per hari. Saat sepi, omzet yang diperoleh jauh dari cukup. Seperti saat ditemui, Wasido mengaku hari ini dirinya baru menjual 10 wadah walah goreng.
 
Rp 300 ribu pendapatan hari ini, kata Saido, belum bersih. Sebab, ia harus memotong keuntungan untuk diputar menjadi modal lagi. Hal ini dikarenakan Wasido tak mencari walang sendiri. Selama musim walang kayu belum merebak di Gunungkidul, ia hanya bisa mengandalkan membeli walang dari luar Gunungkidul.
 
“Ya allhamdulilah, bisa buat tambahan harian,” ujarnya lirih.
Baca Juga: Tak Lagi Dibakar, Limbah Sandal Upanat Jadi Ogoh-Ogoh Garuda Wisnu Kreasi Pemuda Dusun Karangtengah Selatan Borobudur
 
Kesulitan serupa juga dialami Tukijem (70), pedagang asal Kalurahan Pancarejo, Kapanewon Semanu. Ia membuka lapak di sepanjang Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Baron. Tukijem menambahkan, dirinya terpaksa berjualan walang goreng karena penghasilan dari hasil bertani tidak mencukupi.
 
Ia bercerita, dari panen singkong yang diolah menjadi tepung gaplek, ia hanya mendapat Rp 460 ribu untuk dua kuintal. Naasnya, walang goreng milik Tukijem hanya laku tiga wadah. Padahal, sejak berangkat dari Semanu Tukijem berharap 12 wadah yang ia bawa bisa terjual ludes.
 
“Gaplek sebanyak itu kok ya harganya cuma segitu. Jadi ya saya jualan walang goreng ini buat nyambung hidup. Kalau bisa habis 12 wadah lumayan buat bertahan. Kalau seperti ini ya bisa rugi, soalnya saya bolak-balik Semanu, harus keluar ongkos bensin dan makan,” ujar Tukijem. (bas)
Editor : Heru Pratomo
#Gunungkidul #camilan khas #baron #walang goreng