GUNUNGKIDUL - Siang di hutan produksi Kalurahan Giring, Kapanewon Paliyan, seperti memanggang siapa saja yang berani berdiri terlalu lama. Matahari tak hanya memanasi kulit, tapi juga memantulkan panas dari tanah karst yang kering dan berbatu.
Debu halus menari-nari di udara, menempel di keringat, membuatnya menjadi lapisan tipis di wajah. Di tengah hamparan itu, dua perempuan membungkuk, tangan mereka mantap memegang gagang cangkul. Satu hentakan, satu bunyi “krak” saat besi cangkul menghantam batu di bawah permukaan tanah.
Angkat, hentak, angkat, hentak; sebuah ritme yang tak pernah salah sejak pagi tadi. Perempuan itu bernama Wahinah, 55 tahun. Di sebelahnya, Maryanti, 50 tahun. Mereka bukan pemilik lahan, bukan petani yang menanam untuk panen sendiri.
Mereka buruh tani, dibayar harian, tanpa makan siang, tanpa fasilitas apa pun. “Enggak ada yang ngajarin. Lihat ibu nyangkul dulu, aku ikut nyangkul. Aku nyangkul sejak umur enam tahun,” kata Wahinah sembari mengajak Maryanti istirahat.
Hari itu, karena Jumat (15/8), ia hanya bekerja setengah hari. Upahnya Rp25.000. Kalau sehari penuh, Rp50.000. Angka yang mungkin habis hanya dalam sekali belanja di pasar kota, tapi bagi Wahinah, angka itu adalah bahan bakar hidup keluarganya. “Di sini nggak bisa cuma ngandelin penghasilan suami. Kalau cuma laki-laki yang kerja, nggak akan cukup buat kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Ia tidak menyebut ini sebagai perjuangan kesetaraan. Baginya, ini soal kelangsungan rumah tangga. “Aku nggak mikir soal setara atau nggak. Aku mikirnya keluarga. Perjuangan itu harus bareng, istri sama suami. Dari muda sampai sekarang, nyangkul, nyari daun jati, bersihin kandang ayam, apa saja demi keluarga.”
Maryanti, yang terus mengayunkan cangkul di sisi lain lahan, punya alasan serupa. Ia masih punya anak sekolah yang butuh uang bensin, uang jajan, dan biaya pendidikan. “Sehari Rp 50 ribu itu udah paling besar. Kurang? Ya jelas kurang. Tapi mau gimana, ya kami paksain cukup,” katanya.
Ia ahli dalam ilmu bertahan hidup versi ibu desa: masak sekali pagi, lalu makan sisa makanan itu untuk sore. Untuk sayur, ia memetik daun singkong atau daun pepaya di hutan sekitar rumah. “Kalau anak bosan, sesekali beli telur atau ayam. Tapi kalau musim hajatan, tambah repot. Pernah sebulan habis Rp 700 ribu cuma buat nyumbang,” ujarnya sambil tersenyum getir.
Tak jauh dari keduanya, Ngadinah, 56 tahun, tengah mengikat mulut karung besar berisi daun jati kering. Ia sering mengumpulkannya dari hutan produksi. “Satu karung besar dihargai Rp20.000. Nyari setengah hari baru dapat segitu,” katanya. Sama seperti dua rekannya, ia tak punya pilihan selain bekerja. “Kalau nggak ikut kerja, susah bertahan di desa.”
Ketiganya lahir dan besar di pesisir selatan Gunungkidul, wilayah yang keindahannya kerap disorot kamera wisatawan, namun tanahnya keras, airnya terbatas, dan lapangan pekerjaannya sempit. Di sini, perempuan tak hanya mengurus rumah, tapi juga mengangkat cangkul, menembus batu karst, dan mengangkut hasil bumi.
Ketika matahari mulai condong ke barat, cangkul-cangkul itu akhirnya disandarkan. Tak ada pesta kecil, tak ada tepuk tangan. Hanya langkah pelan di jalan tanah pulang ke rumah, dengan tubuh yang lelah tapi hati yang tetap terjaga karena besok, mereka akan kembali lagi bekerja, mencangkul tanah sebagai buruh harian. Persis seperti hari ini, keseharian yang sudah dilakoni perempuan buruh tani sejak kecil. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo