Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Diterpa Musim Kemarau, Mata Air Sumber Ngeleng di Gunungkidul Ini Tak Pernah Kering, Jadi Tumpuan bagi Empat Padukuhan

Yusuf Bastiar • Kamis, 14 Agustus 2025 | 22:05 WIB

Air buangan dari sumber Ngeleng tertampung di telaga yang digunakan oleh warga untuk beternak ikan dan memandikan sapi.
Air buangan dari sumber Ngeleng tertampung di telaga yang digunakan oleh warga untuk beternak ikan dan memandikan sapi.
GUNUNGKIDUL - Di tengah musim kemarau yang mulai melanda, warga empat padukuhan di Kelurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari, tetap bisa bernapas lega.

Sumber Ngeleng salah satu mata air yang sudah mengalir sejak zaman leluhur masih setia menghidupi kebutuhan air 507 kepala keluarga atau ribuan jiwa di wilayah ini.

Dukuh Petoyan Suparno menuturkan bahwa meski debit air berkurang di musim kemarau, kebutuhan harian warga tetap terpenuhi.

“Air dari Sumber Ngeleng ini tidak pernah berhenti mengalir. Hanya saja saat kemarau, kami sepakati pemanfaatannya hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tidak untuk pertanian. Itu supaya semua warga tetap kebagian,” jelasnya saat ditemui di kantor Kalurahan pada Kamis, (14/8/2025).

Keberlangsungan sumber air ini bukan kebetulan. Warga menjaga kawasan sekitarnya layaknya hutan keramat. Pohon-pohon beringin dan resan tumbuh rimbun, menciptakan kawasan hijau yang melindungi mata air dari kekeringan.

Setiap Jumat Wage, warga bergotong royong membersihkan area sumber sebagai bentuk rasa syukur dan perawatan.


“Ini warisan simbah-simbah. Kami rawat karena sudah menyelamatkan kami dari musim kemarau panjang,” kata Suparno.

Sistem Distribusi dan Gotong Royong

Dari Sumber Ngeleng, air dialirkan melalui pipa ke bak penampungan, lalu disalurkan ke rumah warga melalui sistem pipanisasi.

Dukuh Susukan Sutresno menjelaskan bahwa setiap rumah memiliki meteran untuk mengukur pemakaian bulanan.

“Warga membayar iuran sekitar Rp30 ribu per bulan. Dana itu untuk biaya perawatan, perbaikan pipa, dan konsumsi saat bersih-bersih sumber. Semuanya dilakukan gotong royong,” tuturnya.

Model pengelolaan air berbasis komunitas warga ini, kata Sutres, terbukti efektif menjaga ketersediaan air di tengah musim kemarau sekaligus memperkuat solidaritas sosial.

Saat banyak wilayah Gunungkidul mulai bersiap menghadapi krisis air, warga Giritirto tetap tenang, air kehidupan mereka mengalir dari sumber yang tak pernah kering, dijaga oleh tangan-tangan yang setia.

“Kami sudah selamatkan dari musim kemarau, bentuk penghormatan kami ya menjaga, merawat, dan melestarikan sumber Ngeleng,” tegas Suparno. (bas)

Editor : Bahana.
#mata air #Sumber Ngeleng #musim kemarau