Itulah yang dirasakan para nelayan Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari.
Sejak 2016, para nelayan yang tergabung dalam Paguyuban Wisata Bahari memanfaatkan kapal sebagai sarana penyeberangan wisata.
Bagi mereka, inilah cara bertahan hidup mereka dikala cuaca buruk yang membuat mereka tak bisa melaut.
“Lebih baik daripada menganggur,” ujar anggota Paguyuban Wisata Bahari Baron, Widodo saat ditemui di Pantai Baron pada Selasa, (28/7/2025).
Wisata Bahari kini menaungi 121 anggota dan mengoperasikan 42 kapal jukung. Di hari-hari biasa, hanya tiga kapal yang beroperasi.
Namun saat akhir pekan atau musim liburan, seluruh armada dikerahkan demi melayani gelombang wisatawan yang ingin menyeberangi muara Sungai Baron.
Dengan tarif 10 ribu per orang, jasa penyeberangan ini menjadi tumpuan penghasilan harian.
“Hari libur bisa dapat sampai 200 ribu per kapal. Kalau hari biasa ya cukup buat kebutuhan sehari, sekitar 30 ribu sampai 50 ribu,” tambahnya.
Inisiatif penyeberangan ini bukan datang tiba-tiba. Sebelumnya, kawasan muara Sungai Baron dikenal rawan.
Banyak pengunjung menjadi korban saat mencoba menyeberang arus sungai yang dalamnya bisa mencapai empat meter.
“Dulu banyak korban. Akhirnya mulai tahun 2016 kami mulai pakai kapal,” kata Widodo.
Awalnya, kapal nelayan dicoba untuk melayani penyeberangan.
Namun, karena ukurannya terlalu besar dan jarak antar kapal terlalu rapat, akses pejalan kaki justru terhambat.
Solusinya, mereka beralih ke kapal jukung yang lebih kecil dan fleksibel. “Kapal jukung ini lebih pas.
Bisa disusun dengan jarak yang cukup dan aman buat wisatawan,” jelas Widodo.
Nelayan lain, Sumardi, menambahkan bahwa kondisi muara sungai Baron sangat dinamis.
Dulu, aliran sungai kerap berpindah arah hampir setiap tahun.
Pemerintah sempat membangun tanggul untuk mengarahkan sungai ke sisi barat.
Namun, sejak 10 tahun terakhir, arah sungai cenderung tetap dan tak berpindah.
“Alam memang punya kehendak sendiri. Tanggul itu sempat membantu, tapi akhirnya sungai tetap bergerak sesuai maunya,” katanya.
Dulu warga sempat mencoba membangun tangga penyebrangan. Namun, setiap hari harus diperbaiki karena rusak diterjang ombak.
Dari situlah ide kapal muncul, bukan hanya sebagai solusi teknis, tapi juga sumber ekonomi baru bagi warga pesisir.
Kini, para anggota paguyuban bukan hanya nelayan. Sebelumnya mereka banyak yang bekerja sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau bahkan menganggur.
Kehadiran penyeberangan wisata membuka lapangan kerja baru yang berbasis lokal dan ramah lingkungan.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah kondisi gelombang pasang.
“Dalam sebulan ada empat kali perubahan pasang-surut. Kalau gelombang terlalu tinggi, kapal gak bisa sandar. Tapi kami sudah terbiasa, ada yang selalu standby,” ujar Sumardi.
Dengan semangat kolektif dan adaptasi terhadap alam, para nelayan Pantai Baron membuktikan bahwa hidup dari laut bukan hanya soal mencari ikan.
Tapi juga soal mencari peluang, menjaga keselamatan, dan merawat hubungan antara manusia dan alam. Ombak boleh tinggi, tapi harapan tak pernah surut. (cr1)
Editor : Bahana.