Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terinspirasi Lampu JJLS, Pakai Panel Surya untuk Penerangan Warung di Kawasan Tepus

Yusuf Bastiar • Sabtu, 12 Juli 2025 | 15:05 WIB
Suhartini sedang menunjukkan botol Sentir yang dulu ia gunakan untuk penerangan.
Suhartini sedang menunjukkan botol Sentir yang dulu ia gunakan untuk penerangan.

 

 

 

GUNUNGKIDUL - Di sebuah sudut sepi Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS), tepat di perempatan arah Pantai Krakal, Kalurahan Tanjungsari, Kapanewon Tepus, berdiri sebuah warung kecil berdinding triplek dan beratapkan seng.

Warung itu milik Suhartini (59), seorang perempuan tangguh yang setiap hari setia menjaga warungnya, menjual kopi, mie instan, dan sedikit cemilan kepada para sopir truk, wisawatan pulang malam, atau warga yang sekadar melintas.

Di balik kesederhanaan warung itu, tersimpan kisah terang. Bukan hanya secara harfiah, tetapi juga secara harapan.

Warung Suhartini mulai berdiri pada awal 2023. Saat itu, tidak ada listrik, tidak ada cahaya. Suhartini bertahan malam hari hanya dengan sentir. Pencahayaan tradisional ini merupakan lampu minyak tanah kecil yang menjadi satu-satunya sumber penerangan saat malam tiba.

"Awalnya gelap gulita. Kalau ada pembeli malam-malam, ya cuma terang dari satu sentir itu," kenang Suhartini pada Jumat, (11/7).

Suhartini tetap membuka warung meski minim fasilitas. Ia hanya ingin mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Tapi saudara-saudaranya melihat sesuatu yang berbeda: kegigihan dan kesendiriannya.

“Saudara saya kasihan. Akhirnya dikasih lampu rakitan. Tapi harus bolak-balik ke rumah buat nge-charge akinya,” katanya.

Rumah Suhartini tidak terlalu dekat dari lokasi warung. Aktivitas pulang-pergi hanya untuk mengisi daya aki membuatnya harus keluar uang lebih untuk bensin. Penghasilannya yang tak seberapa, semakin tergerus hanya demi setitik cahaya.

Di depan warungnya, tiang-tiang lampu jalan JJLS berdiri kokoh dengan panel surya di atasnya. Sinar lampunya terang dan tak pernah padam. Di situlah Suhartini mendapat ide. "Kalau jalan bisa pakai tenaga matahari, kenapa saya tidak bisa?"

Ia mulai bertanya ke sana kemari. Mencari tahu soal panel surya, berapa harganya, di mana membelinya, bagaimana memasangnya. Informasi demi informasi ia kumpulkan.

Hingga akhirnya ia tahu bahwa panel surya seperti di jalan bisa dibeli di Kota Jogja dengan harga Rp 1 juta. Angka yang besar bagi Suhartini. Tapi bukan tak mungkin. “Sehari saya dapat Rp 20.000. Saya tabung Rp10.000, sisanya buat makan dan kebutuhan lain. Lima bulan saya nabung,” ujarnya pelan.

Selama lima bulan itu, Suhartini harus berhemat luar biasa. Ia mengurangi belanja dapur dan bahkan kadang menahan diri mengeluarkan uang. Semua dilakukan demi satu tujuan: membeli cahaya sendiri.

Saat tabungannya terkumpul, ia meminta bantuan saudara untuk membelikan panel surya di Jogja. Tidak butuh yang besar—satu lembar saja, cukup.

Persis seperti panel yang dipasang di tiang lampu jalan. Setelah terpasang, malam pertama di warungnya menjadi malam yang istimewa.

“Terang. Warung jadi kelihatan dari jauh. Saya gak takut lagi kalau malam sendirian,” katanya sambil tersenyum.

Sejak itu, Suhartini tak perlu lagi memikirkan biaya listrik, tak harus pulang-pergi untuk mengisi daya. Warungnya kini terang, dan ia bisa fokus pada hal-hal yang lebih penting: menyambut pelanggan, menjaga usaha kecilnya tetap hidup. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#panel surya #lampu #JJLS #Gunungkidul #Tepus #jalur jalan lintas selatan #warung #sentir