Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Berada di Antara DAS Opak-Oyo, DAS Dengkeng, dan DAS Bribin, Kakao Gunungkidul Punya Keunggulan

Yusuf Bastiar • Jumat, 11 Juli 2025 | 16:10 WIB
Buah Kakao punya banyak manfaat
Buah Kakao punya banyak manfaat

 

GUNUNGKIDUL - Upaya Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mengangkat potensi lokal terus digencarkan. Kali ini, melalui proses pendaftaran Indikasi Geografis (IG) untuk komoditas kakao Gunungkidul.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi menyebut, proses pengajuan IG telah dimulai sejak akhir 2023 melalui usulan bantuan fasilitasi ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Langkah itu diperkuat dengan diterbitkannya SK Bupati Gunungkidul Tahun 2024 tentang pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kakao Gunungkidul.

“MPIG ini berperan menjaga standar produksi, melindungi reputasi kakao Gunungkidul, serta mendukung pemasaran dan pengembangan agrowisata,” ujar Rismiyadi Kamis, (10/7).

 

MPIG Kakao Gunungkidul terdiri dari unsur pemerintah daerah, kelompok tani, dan lembaga lokal. Mereka saat ini sedang melengkapi dokumen deskripsi, peta wilayah produksi, hingga data teknis sebagai syarat utama sertifikasi IG.

Puncak proses administratif dicapai pada 7 Juli 2025, saat dokumen permohonan IG diuji dalam pemeriksaan substantif daring oleh Tim Pemeriksa Indikasi Geografis Kementerian Hukum. Tim pemeriksa memberikan catatan perbaikan yang harus segera disempurnakan dalam waktu maksimal tiga minggu.

“Harapannya, sertifikat IG dapat segera terbit agar membuka pasar yang lebih luas dan menambah nilai ekonomi bagi masyarakat,” jelas Rismiyadi.

Ketua MPIG Kakao Gunungkidul, Rabono, mengungkapkan Kakao Gunungkidul dibudidayakan di atas lahan seluas kurang lebih 1.204 hektare. Tersebar di enam kapanewon: Patuk, Gedangsari, Nglipar, Playen, Karangmojo, dan Ponjong.

Komoditas ini, kata Rabono, melibatkan sekitar 1.200 petani. Tak hanya itu, berdasar dokumen sertifikasi telah tercatat kakao juga menyumbang hingga 25 persen  dari pendapatan rumah tangga petani kakao.

Baca Juga: Dua SMP dan Satu SD Terdampak Proyek Tol Jogja-Solo Seksi 2 di Sleman, Salah Satunya Harus Pindah ke Lokasi Baru

Dari sisi mutu, kakao Gunungkidul memiliki profil rasa kuat dengan keasaman rendah, kepahitan cukup, dan sedikit sepat. Aromanya memunculkan sentuhan bunga, rempah, dan buah kering dengan intensitas rendah. Tidak ditemukan cacat rasa seperti bau asap atau kimia.

“Lemak kakaonya berwarna kuning dengan rasa khas, mengandung asam lemak bebas 0,63 persen. Bubuknya memiliki kehalusan hingga 99,7 persen, kadar lemak 37,87 persen, dan kadar air 5,55 persen,” tambah Rabono.

 

Keunggulan kakao Gunungkidul tidak hanya soal rasa. Selama ini kulit dan daun kakao juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Di sisi lain, kawasan kebun kakao mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif, kuliner, dan pusat oleh-oleh.

Secara ekologis, tanaman kakao juga mendukung pelestarian lingkungan. Sebab, menurut Rabono Kakao merupakan tanaman tahunan berdaun hijau yang mampu menyimpan karbon.

 

Kualitas istimewa kakao Gunungkidul sangat dipengaruhi oleh letak geografisnya di ketinggian 200–800 meter dpl, di antara DAS Opak-Oyo, DAS Dengkeng, dan DAS Bribin. “Tanah liat hingga lempung-liat-berpasir dengan kandungan unsur hara unik membuat cita rasa kakao ini tidak bisa disamai daerah lain,” tambah Rabono. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Gunungkidul #das #Kementerian hukum #Oyo #kapanewon #kakao #Opak