GUNUNGKIDUL - Dalam upaya menekan angka stunting yang masih tinggi di Kabupaten Gunungkidul, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah mitra menggencarkan program pengabdian masyarakat berbasis riset. Inisiatif ini menitikberatkan pada pemanfaatan pangan lokal bergizi. Seperti tempe dan pisang dalam bentuk olahan makanan tambahan bagi ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK).
BRIN melalui Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) melibatkan melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Gunungkidul, serta PT BPR Bank Daerah Gunungkidul (BDG). Koordinator PRTPP BRIN, Dini Ariani menjelaskan pengabdian masyarakat ini menjadi ajang penerapan hasil riset dari Kelompok Teknologi Protein Alternatif. Intervensi, menurut Dini akan dilaksanakan selama enam bulan di wilayah dengan tingkat KEK tinggi.
“Di dua kalurahan di Kapanewon Playen, ada Kalurahan Karangduwet sama Karangasem,” ujar Dini pada Minggu (29/6/2025).
Dini mengungkapkan riset ini akan dimulai dari pengembangan formula pangan lokal. Setelah proses ini selesai, pihaknya akan langsung melakukan pengujian di laboratorium. Kemudian, setelah hasil risetnya sudah diketahui, menurut Dini timnya akan melakukan pelatihan kader posyandu dan UMKM.
Prosedur ini menurutnya akan membuat hasil riset tak sekedar menjadi hasil tulisan saja. Lebih dari itu, Dini ingin manfaatnya lebih luas. Sehingga, pengabdian masyarakat menjadi solusinya.
“Bahkan nanti ada proses evaluasi hasil produksi akan dilakukan secara menyeluruh,” ujarnya.
Baca Juga: Bupati Kulon Progo Agung Setyawan Meminta Rebranding dan Revitalisasi Pertanian Kopi
Tak hanya itu, dalam proses pemberdayaan, menurut Dini pemberian makanan tambahan terhadap ibu hamil juga akan dilakukan dua kali seminggu selama 12 minggu. Dini menambahkan, kegiatan ini juga akan mengukur dampaknya terhadap kondisi gizi para ibu secara langsung. Bahkan, status gizi ibu hamil juga akan dipantau terus menerus. “ Termasuk berat badan, lingkar lengan, dan kadar hemoglobin,” ujar Dini.
Baca Juga: PSS Mulai Bangun Skuad, Giliram Kim Jeffry dan Ega Rizky Dipertahankan PSS Sleman
Tak sekadar fokus pada perbaikan status gizi. Dini menyebutkan bahwa ada potensi yang sangat besar dalam membuka ruang bagi pemberdayaan perempuan. Selain itu, menurutnya penguatan ekonomi lokal melalui inovasi produk pangan juga bisa dilakukan. Keduanya, menurut Dini saling berkaitan erat dalam menekan angka stunting di Gunungkidul. Seperti tujuan awal program ini digagas, Dini menyebut tiga misi utamanya, yakni meningkatkan kesadaran gizi selama kehamilan, mengembangkan keterampilan pengolahan pangan lokal, serta mendukung kemandirian ekonomi perempuan di tingkat rumah tangga.
Ketua IDI Gunungkidul Diah Prasetyorini menegaskan, pentingnya intervensi gizi sejak masa kehamilan, bukan hanya saat anak sudah lahir. Menurutnya, saat ini Gunungkidul sedang mengalami penurunan angka stunting pada 2024. Tetapi, masih menjadi daerah dengan prevalensi tertinggi di DIY. Sehingga, Diah menekankan perlunya mengupayakan pemenuhan gizi sejak dalam kandungan. “Agar bayi lahir sehat dan tidak stunting,” ujar Diah. (cr1)
Editor : Sevtia Eka Novarita