Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

PKL Alun-Alun Wonosari Berharap Relokasi ke Besole Batal, Khawatir Tak Bisa Lagi Jual 200 Tusuk Bakso Bakar

Yusuf Bastiar • Sabtu, 28 Juni 2025 | 12:05 WIB
Tumiati baru saja selesai membuka lapaknya. Ia berjualan bakso bakar di Alun-alun Wonosari menggunakan gerobak motor. Dalam sehari, Tumiati bisa menjual 200 tusuk bakso bakar.   
Tumiati baru saja selesai membuka lapaknya. Ia berjualan bakso bakar di Alun-alun Wonosari menggunakan gerobak motor. Dalam sehari, Tumiati bisa menjual 200 tusuk bakso bakar.  

GUNUNGKIDUL - Keputusan Pemkab Gunungkidul merelokasi pedagang kaki lima (PKL) dari kawasan Alun-alun Wonosari ke Pasar Besole masih belum kelar. Salah satu PKL Tumiati, masih belum yakin lokasi relokasi bisa seramai di alun-alun.

Penjual bakso bakar yang sudah delapan tahun berjulan itu mengaku bisa menjual 200 tusuk bakso bakar sehari. Dia meraup keuntungan sampai Rp 300 ribu perharinya.

“Itu juga buat modal lagi, buat bertahan hidup lagi,” cerita Tumiati saat ditemui di gerobak motor miliknya Jumat, (27/6).

Seusai ia membuka lapaknya, tepat pukul 13.00 siang, Tumiati bercerita bahwa ia sudah bertaruh hidup di Alun-alun Wonosari sejak sebelum pembangunan trotoar di sekitar alun-alun.

Waktu itu, pada awal 2016, ketika awal-awal babat alas sebagai PKL di Alun-alun Wonosari, bakso tusuk Tumiati tak pernah habis.

Dalam sehari, perempuan paro baya tersebut hanya bisa menjual 30-an tusuk saja. Tiga bulan pertama berjualan merupakan masa paling sulit. Sebab, berulang kali ia harus membawa pulang dagangnya ke rumah. “Waktu awal jualan dulu, dapat Rp 100 ribu itu pun susah. Tapi saya jalani terus, tiga bulan saya bertahan. Saya mulai dari nol,” kenangnya.

Kemudian, jerih payahnya itu membuahkan hasil. Setelah tiga bulan, bakso bakar Tumiati mulai dikenal oleh anak-anak sekolah, jamaah Masjid Agung Wonosari, bahkan pengunjung alun-alun.

Perempuan paro baya itu juga menceritakan dagangannya kini sudah tak seramai dulu. Meski begitu, setiap hari, tumiati masih bisa menjual lima kilogram bakso dengan total sekitar 200 tusuk.

Dalam kondisi paling sepi, ia bisa mengantongi Rp 250 ribu. Sementara saat ramai, pendapatannya bisa mencapai Rp 400 ribu.

Sekarang ini, ketika satu pekan dia tak berjualan, Tumiati mengaku pelanggan tetapnya justru sering mencarinya. Tumiati tidak melihat Alun-alun Wonosari hanya sebatas tempat mencari uang saja.

Baca Juga: BNN Sleman Komitmen Kuatkan Pencegahan, Rehabilitasi, dan Pemberantasan Narkoba

Lebih dari itu, Tumiati menganggap alun-alun kota ini sebagai rumah kedua yang melindungi ekonomi keluarganya. Oleh karenanya, Tumiati berharap pemerintah mengkaji ulang kebijakan relokasi PKL Alun-alun Wonosari ke Pasar Besole.

“Saya minta jangan dipindah. Saya orang kecil, cuma cari uang buat hidup,” pintanya. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#alun-alun #pemkab #Gunungkidul #PKL #tusuk #bakso tusuk #Pasar Besole #masjid