Menurut GKR Hemas selama ini masyarakat Bumi Handayani mempunyai kemauan yang tinggi untuk mengembangan tanaman bawang merah.
Sehingga, baginya potensi Gunungkidul dalam budidaya bawang merah layak dibanggakan.
“Apa yang dilakukan petani di sini menjadi wujud nyata menjaga ketahanan pangan,” ujar GKR Hemas saat melakukan kunjungan kerja di Padukuhan Klayar, Kalurahan Kedungpoh, Kapanewon Nglipar, Senin, (16/6/2025).
GKR Hemas menilai semangat dan gotong royong warga menjadi kunci keberhasilan budidaya pertanian di wilayah ini.
Selain itu, baginya kemauan masyarakat dalam pertanian bawah merah juga menjadi penting.
Sebab, menurut GKR Hemas jika petani memiliki kemauan untuk maju, apalagi dengan didikan dan pendampingan, maka hasilnya bisa maksimal.
Senanda dengan GKR Hemas, Panewu Kapanewon Nglipar, Sustiwiningsih, menjelaskan bahwa hasil pertanian bawang merah di wilayahnya cukup menjanjikan.
Dari satu hektar lahan, petani dapat memanen hingga 30 ton bawang merah.
Menurutnya bawang merah di Kapanewon Nglipar akan mengalami panen maksimal jika kebutuhan air terpenuhi.
Sehingga, musim kemarau basah ini sangat cocok untuk tanaman bawang merah.
“Dengan harga jual mencapai Rp25.000 per kilogram bawang merah basah ini cukup menjanjikan,” tutur Susti.
Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul, Rismiyadi membenarkan klaim GKR Hemas.
Menurutnya struktur tanah dan cuaca di Gunungkidul sangat cocok untuk pertanian bawang merah.
Hanya saja, Rismiyadi menilai selama ini budidaya bawang merah padat modal.
Sehingga, resikonya cukup tinggi ketika petani mengalami gagal panen.
Hal inilah yang menurut Rismiyadi mengakibatkan tidak semua petani Gunungkidul mau menanam bawang merah.
Meski demikian, Rismiyadi menuturkan pasar bawang merah di Gunungkidul sangatlah bagus.
“Cocok, hampir di semua wilayah cocok utk ditanami bawang merah, yang penting tersedia air utk penyiraman,” ujar Rismiyadi. (cr1)
Editor : Bahana.