Salah seorang sopir bus, Edi Sutikno menolak rencana tersebut karena merasa terancam kehilangan sumber kehidupan satu-satunya itu.
Bahkan, Sutik baru tahu kabar Trans Jogja akan mengambil rute perjalanan Jogja-Wonosari justru dari pemberitaan media.
“Pemerintah kabupaten kemana, kok kita angkutan bus lokal gak dikasih tau,” keluhnya saat sedang mangkal di Terminal Induk Dhaksinarga Gunungkidul pada Kamis, (12/6/2025).
Sutik sendiri sudah 35 tahun menjadi supir mini bus jurusan Wonosari-Jogja.
Belajar dari pengalaman sopir di Jogja Kota, Bantul, Sleman dan Kulonprogo, Sutik yakin dengan adanya Trans Jogja pekerjaannya sebagai supir mini bus lokal akan mati.
Menurut Sutik disebabkan karena tarif yang dipasang oleh Trans Jogja akan jauh lebih murah daripada bus lokal.
“Ya Trans Jogja itukan pasti dapat subsidi dari pemerintah, makanya bisa lebih murah,” ujar Sutik.
Sekarang ini, dalam sehari Sutik mengaku hanya bisa melakukan perjalanan dua kali Wonosari-Jogja.
Apalagi penumpang minibus dari Wonosari menuju Jogja sangatlah sedikit.
Bahkan dalam sekali perjalanan, Sutik hanya mengangkut empat sampai lima penumpang saja.
Menurutnya, dari segi jumlah penumpang kondisi angkutan umum lintas kota Gunungkidul-Jogjakarta sudah memprihatinkan.
“Kalau ditambah ada Trans Jogja kami harus hidup dengan apa,” tutur Sutik.
Bahkan, bila ada tawaran dari pemerintah terkait kerja sama menjadi sopir bus, Sutik akan tetap menolak.
Mengingat dirinya sudah tua sehingga akan dipergunakan sebagai sopir hanya satu atau dua tahun saja.
Sutik justru berharap pemberdayaan langsung dari pemerintah kabupaten untuk terhadap pengusaha minibus lokal Gunungkidul.
Sehingga, menurutnya pemerintah dan masyarakat bisa bersama-sama membangun Bumi Handayani.
“Kalau sepihak, kami yang tersingkir,” ujar Sutik.
Senada dengan Sutik, pemilik bus Putra Gunungkidul, Budiono juga menolak rencana masuknya Trans Jogja ke Gunungkidul.
Alasannya pun sama, bahwa Trans Jogja akan mematikan usaha lokal warga Gunungkidul.
Padahal, Budi sendiri sudah merintis usahanya sejak dari 2006 lalu.
“La angkutan umum Gunungkidul ini mau dikemanakan. Padahalkan masih aktif, masih beroperasi, masih ada,” ujar Budi. (cr1)
Editor : Bahana.